Thursday, April 21, 2011

FUNGSI LABORATORIUM DAKWAH


OPTIMALISASI FUNGSI LABORATORIUM DAKWAH BAGI PENINGKATAN MUTU AKADEMIK MAHASISWA

M. Alfandi
(Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang)

ABSTRACT

The da'wah laboratory in faculty of da'wah IAIN Walisongo Semarang was initiated its establishment by the beginning of the 1990s, through various seminars, discussions, and workshops on the da’wah laboratory. Since its establishment in 1996 until now (2009), da'wah laboratory in faculty of da'wah IAIN Walisongo Semarang continue to develop, from the divisions development equipped with special rooms and various kinds of equipment. But the problem is that the existence of da’wah laboratory with all the tools and the equipment has not really become an idealized institution by the student. Students don’t consider the role and the function of the da’wah laboratory in increasing their academic quality. Da’wah laboratory was used by students who have interest to some activities in the Da'wah Laboratory, such as in PH, Radio, and others. While students who don’t have interest to some of the activities in the Da'wah laboratory, he don’t want to follow some of the activities in the Da'wah Laboratory. According to the author, there is a mechanism that can force students to be active in Da'wah laboratory. It is the students must take the SKK. Co Curricular Unit (SKK) Design for students may need to be reformed so it more focused to student competencies in each faculty. So the activities that must be followed between faculties / departments with the other one is different, so that activities can support the core competencies of the each student.

Kata Kunci: Laboratorium Dakwah, Satuan Ko Kurikuler

A. PENDAHULUAN
Eksistensi suatu lembaga pendidikan tinggi sangat ditentukan oleh adanya visi, misi dan tujuannya yang jelas. Fakultas Dakwah IAIN Walisongo sebagai bagian dari Lembaga Pendidikan Tinggi Agama Islam juga memiliki visi , misi dan tujuan. Misi Fakultas Dakwah sebagaimana misi IAIN Walisongo adalah pertama, menyediakan pelayanan yang penuh tanggung jawab dalam rangka menjalankan Tri Darma Perguruan Tinggi, khususnya mengantarkan mahasiswa di samping untuk menjadi ahli juga untuk memantapkan aqidah, akhlaq, ketulusan, dedikasi, inovasi dan prestasi mahasiswa; kedua, mewujudkan keteladanan kehidupan masyarakat madani yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan tetap menjunjung budaya Indonesia.
Sedangkan tujuan Fakultas Dakwah adalah menyelenggarakan pendidikan tinggi dan penelitian serta pengabdian kepada masyarakat di bidang dakwah. Untuk merealisir tujuan tersebut maka dibukalah jurusan yang masing-masing memiliki tujuan untuk mendidik cendekiawan muslim berstrata satu (S.1) yang memiliki aqidah Islam yang kuat, berfikrah islami, istiqomah dalam bersikap dan bertindak menurut Islam dan memiliki ketrampilan (skill) sesuai jurusan masing-masing, yaitu : pertama, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) diharapkan memiliki keterampilan dalam menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat baik dengan sarana tradisional (mimbar) maupun dengan media massa modern (cetak dan elektronik seperti televisi dan radio). Kedua, Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) diharapkan memiliki keterampilan dalam bimbingan dan konseling Islami serta ahli dalam psikoterapi Islam sebagai aktualisasi tugas-tugas dakwah. Ketiga, Jurusan Menejemen Dakwah (MD) diharapkan memiliki keterampilan dalam mengelola lembaga-lembaga dakwah (lembaga yang mengemban missi dakwah) dalam rangka menegakkan kepemimpinan umat Islam.
Untuk mewujudkan visi, misi dan tujuan tersebut maka dibutuhkan muatan kurikulum, Sumber Daya Manusia (SDM) yang tersedia dan memadai terutama berkaitan dengan tenaga pengajar (dosen), pelaksanaan Proses Belajar Mengajar (PBM) dan evaluasi, serta yang tidak kalah pentingnya adalah tersedianya laboratorium yang merupakan perangkat penunjang pelaksanaan pendidikan. Laboratorium merupakan tempat pembekalan, pembinaan bagi sivitas akademika agar lebih berkualitas di dalam mengusai ilmu pengetahuan akademik dan pendidikan keterampilan profesional.
Untuk mendukung terwujudnya visi, misi dan tujuannya, Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang telah mendirikan Laboratorium Dakwah. Laboratorium Dakwah merupakan bagian integral dalam pelaksanaan proses belajar mengajar di Fakultas Dakwah dan merupakan institusi yang berfungsi sebagai ujung tombak pengembangan jurusan dan program studi di Fakultas Dakwah. Laboratorium Dakwah Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang dirintis pendiriannya mulai awal tahun 1990-an, melalui berbagai kegiatan seminar, diskusi, dan lokakarya mengenai laboratorium dakwah. Kemudian baru mulai pada tahun 1996 dibangunlah gedung megah 2 (dua) lantai yang diperuntukkan untuk Laboratorium Dakwah, dan merupakan Labaratorium Dakwah pertama diantara IAIN dan STAIN se-Indonesia, sekaligus sebagai laboratorium fakultas pertama di lingkungan IAIN Walisongo.
Semenjak berdirinya di tahun 1996 sampai sekarang tahun (2009), Laboratorium Dakwah Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang terus mengalami perkembangan, mulai dari pengembangan divisi-divisi yang dilengkapi ruangan-ruangan khusus dan juga kelengkapan peralatannya, seperti: (1) Divisi Broadcasting, yang dilengkapi dengan Ruang Studio Siaran Radio dan Ruang Studio Produksi Siaran Radio kedap suara lengkap dengan peralatan siarnya. Selain itu juga dilengkapi dengan Ruang Production House (Produksi Siaran TV dan Film) kedap suara lengkap dengan peralatannya . (2) Divisi Publishing, yang dilengkapi dengan ruang percetakan lengkap dengan peralatan cetak. (3) Divisi Media Tradisional, yang dilengkapi dengan ruang micro preaching, yang dilengkapi dengan peralatan modern, seperti video shooting. Selain itu divisi ini memiliki peralatan tradisional, seperti gamelan dan wayang kulit yang biasa digunakan para Wali ketika melaksanakan dakwahnya. (4) Divisi Konseling, yang dilengkapi dengan ruang kedap suara untuk latihan dan praktek konseling. Selain itu, untuk melaksanakan fungsi divisi ini telah dibentuk Lembaga Bimbingan Konseling Islami (LBKI). (5) Divisi Penelitian dan Pengembangan, yang dilengkapi dengan operation room lengkap dengan berbagai peralatan, seperti computer, yang berfungsi sebagai penyusunan data dan pusat informasi data. Selain itu tersedia ruangan seminar dan diskusi dengan kapasitas 200 orang. (6) Divisi Kelembagaan Islam, yang dilengkapi dengan ruang ekspose lengkap dengan peralatan-peralatan presentasi, seperti Laptop, LCD, OHP, dan lain-lain. Selain itu juga terdapat ruang praktikum manajemen kelembagaan Islam, seperti menejemen wisata religious, haji dan umroh. .
Namun yang menjadi permasalahan adalah bahwa keberadaan Laboratorium Dakwah dengan segala perlengkapan dan peralatannya sebagaimana yang telah tersebut belum benar-benar menjadi institusi yang diidealkan oleh mahasiswa. Mahasiswa belum banyak yang merasakan peran dan fungsi laboratorium dakwah dalam peningkatan kualitas akademik mereka. Hal ini terlihat dari hasil penelitian Umul Baroroh, dkk., tentang “Persepsi Mahasiswa Fakultas Dakwah terhadap Peran dan Fungsi Laboratorium Dakwah dalam Peningkatan Kualitas akademik Mahasiswa”, yang menunjukkan bahwa secara keseluruhan kecenderungan persepsi (perhatian, kebutuhan, pengetahuan, pandangan, dan perasaan) mahasiswa terhadap laboratorium Fakultas Dakwah termasuk sedang, hanya sedikit di atas nilai rata-rata /teoritis (60 di antara rentang 20-100). Nilai tersebut adalah 67,1; kurang dari 1 standard deviasi (8,0) di atas nilai rata-rata ideal. Hal ini menunjukkan bahwa dalam hal persepsi mahasiswa fungsi laboratorium dakwah tidak begitu penting dalam mendukung studi mereka. Dari hasil penelitian ini juga terlihat bahwa mahasiswa merasa belum optimal menggunakan fasilitas yang ada di Labda, terdapat 88,2 % yang menyatakan setuju, 8,5 % ragu-ragu, dan hanya 3,4 % yang menyatakan tidak setuju. Demikian juga terhadap pernyataan bahwa mahasiswa yang aktif di Labda hanya sedikit, terdapat 81,4 % yang menyatakan setuju, 11,9 % ragu-ragu, dan hanya 6,8 % yang menyatakan tidak setuju.
Dari penelitian ini juga diperoleh saran dan kritik yang konstruktif, serta beberapa keinginan/ harapan dari mahasiswa kepada Labda, diantaranya :
a) Dari mahasiswa KPI :
1. Agar semua mahasiswa diwajibkan mengikuti kegiatan di Labda, sehingga ketika lulus mempunyai keahlian yang memadai.
2. Optimalisasi penggunaan peralatan Labda oleh mahasiswa, sehingga tidak terkesan hanya mahasiswa tertentu yang boleh menggunakan
3. Agar ditingkatkan kelengkapan sarana dan prasarananya
4. Kegiatan Labda agar dipublikasikan kepada mahasiswa
5. Radio MBS FM harus lebih maju dalam mencari bakat-bakat penyiar pada setiap mahasiswa Fakultas Dakwah, karena sangat menunjang untuk memperoleh pengalaman penyiaran radio.
6. Untuk Production House (PH) agar lebih dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai sarana promosi Fakultas Dakwah.
b) Dari mahasiswa BPI :
1. Mahasiswa masih kurang memanfaatkan Labda, dan program agar dibuat lebih menarik
2. Sosialisasi program-program labda kurang; banyak mahasiswa yang tidak tahu kegiatan labda
3. Labda harap melakukan sosialisasi, agar program-programnya diketahui mahasiswa
4. Labda (khususnya LBKI) agar dilengkapi internet, agar fakultas dakwah dan labda dikenal di luar
5. Agar alat-alat yang di LBKI, agar bisa dioperasikan (alat psikotest), dicarikan pihak yang bisa membantu penggunaannya
6. Kegiatan labda agar lebih diaktifkan, dan kebersihan labda lebih ditingkatkan
7. Agar ada kerjasama pengurus labda dengan UKM untuk meningkatkan kinerja labda
8. Buat siistem yang bisa mengatur mahasiswa, agar mereka bisa aktif di Labda
9. Labda harus dioptimalkan, utamanya LBKI dan radionya
c) Mahasiswa MD :
1. Labda setelah mengadakan pelatihan harap ada tindak lanjut; tempatkan mahasiswa yang potensial untuk aktif di labda
2. Adakan sosialisasi program-program dan makanisme penggunaan labda
3. Optimalkan fungsi labda untuk peningkatan mutu mahasiswa; buat program kerja yang jelas, dan sosialisasikan untuk semua mahasiswa di papan pengumuman
4. Adakan kegiatan yang mencakup semua jurusan
5. Lengkapi sarana dan prasarananya untuk semua jurusan
6. Setidaknya tiap jurusan ada mata kuliah yang hendak dipraktekkan di labda, tidak hanya jurusan-jurusan tertentu
Dari hasil penelitian, kritik dan saran, serta keinginan tersebut terlihat bahwa Labda memang belum optimal dipergunakan oleh sebagian besar mahasiswa untuk peningkatan kompetensi mereka. Keberadaan Labda sementara ini masih lebih banyak berfungsi sebagai :
1. Tempat praktikum mata kuliah tertentu dan simulasi PPL, yang itupun belum optimal.
2. Tempat yang “dipinjam” untuk beberapa kegiatan kemahasiswaan, kefakultasan, dll.
3. Tempat yang “dibanggakan” dan “dipamerkan” ke IAIN/ UIN dan STAIN lain di Indonesia, dalam setiap kunjungannya ke Labda.
4. Tempat praktek beberapa mahasiswa yang interest terhadap beberapa kegiatan di Labda (Radio, PH, LBKI), yang hal ini kadang memunculkan kesan bahwa “hanya mahasiswa tertentu yang dapat aktif menggunakan peralatan di Labda”. (terlihat dari beberepa kritik di atas).
Realitas tersebut memang tidak dapat dipungkiri, walaupun perlu diakui juga bahwa dari Labda telah melahirkan beberapa alumni yang berkompeten di bidangnya. Oleh karena itu perlu adanya langkah-langkah yang perlu dilakukan diantaranya:
1. Mendorong kepada dosen yang mengajar mata kuliah yang berbobot praktikum agar mengoptimalkan fasilitas di Labda.
2. Menyelenggarakan beberapa kegiatan pelatihan bagi mahahsiswa yang terstruktur di Labda
3. Membuat mekanisme yang baku dan mengikat agar semua mahasiswa dapat aktif memanfaatkan dan mengikuti beberapa kegiatan di Labda, sehingga mahasiswa benar-benar dapat berkompeten di bidangnya, dll.
Point/ item ketiga inilah yang akan menjadi fokus kajian pada makalah ini.

B. KONSEPSI FUNGSI LABDA BAGI PENINGKATAN KOMPE-TENSI MAHASISWA DAN PENGEMBANGAN DAKWAH
Menurut Pedoman Akademik IAIN Walisongo Semarang Bab XIX, Pasal 96, dijelaskan bahwa :
1) Laboratorium merupakan perangkat penunjang pelaksanaan pendidikan dalam bidang akademik dan atau professional.
2) Institut dan fakultas bertanggung jawab dalam penyelenggaraan laboratorium.
3) Laboratorium merupakan tempat pembekalan, pembinaan bagi sivitas akademika IAIN agar lebih berkualitas di dalam menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan professional.
4) Laboratorium berfungsi untuk menunjang peningkatan kualitas pendidikan, pengembangan ilmu dan penerapannya dalam kehidupan masyarakat.
5) Tujuan penyelenggaraan laboratorium adalah untuk menunjang, memperlancar serta meningkatkan kualitas pelaksanaan pendidikan baik dalam bidang pendidikan akademik dan atau professional
Menurut Amrullah Ahmad, Laboratorium Dakwah adalah lembaga yang melakukan penelitian, pengembangan dan uji coba teori, model dan program dakwah Islam, baik yang berkaitan dengan dakwah billisan (Komunikasi dan Penyiaran Islam, serta Bimbingan dan Penyuluhan Islam), dakwah bilhal (Pengembangan Mastarakat Islam), maupun dakwah bittadbir (Menejemen Dakwah) yang dilaksanakan di suatu tempat tertentu, dengan tujuan supaya kegiatan teoritik dakwah memiliki relevansi dengan realitas dakwah, dan kegiatan empiris dakwah memiliki akar teoritik yang jelas sehingga sasaran dan tujuan dakwah dapat tercapai.
Menurut Amrullah Ahmad, dalam wujudnya laboratorium dakwah dapat terdiri dari 2 (dua) bagian, yaitu laboratorium klasikal dan laboratorium bina masyarakat (Laboratorium Kancah). Pertama, Laboratorium Klasikal adalah laboratorium yang menempati ruangan tertentu dalam kampus yang didalamnya terdapat berbagai macam peralatan-peralatan dan kegiatan, seperti penyusunan desain model, analisa dan uji coba dakwah islam pra-lapangan dilaksanakan. Demikian juga hasil implementasi uji coba lapangan dianalisa dan dievaluasi menurut criteria dan standart program yang sudah ditetapkan. Hasil analisa dijadikan dasar untuk mendesain ulang model dakwah atau untuk menyempurnakan desain model yang sudah ada. Struktur laboratorium klasikal ini paling tidak meliputi:
a) Data Base, tentang profil lokasi atau sasaran dakwah, profil da’i, kepemilikan sarana komunikasi.
b) Peta Dakwah
c) Rancangan model dakwah
d) Aplikasi model dalam praktek
e) Pengolahan masukan aplikasi model dari lapangan
f) Analisa refleksi model dan abstraksi implementasi model.
Kedua, Laboratorium Masyarakat, yaitu laboratorium yang berada diluar kampus, dan berada pada suatu wilayah tertentu. Yang wujudnya dapat berupa: desa binaan, lembaga dakwah, lembaga profesional, dan lain-lain.
Keberadaan laboratorium dakwah menurut peraturan pemerintah Nomor 60 tahun 1999, pasal 50. sebenarnya secara yuridis berada dibawah jurusan, dan dipimpin oleh seorang ketua yang berasal dari dosen dan diangkat oleh rektor atas usul Dekan setelah mendapatkan pertimbangan Senat Fakultas dan ketua laboratorium bertanggung jawab kepada ketua jurusan. Sehingga masing-masing jurusan idealnya memiliki laboratorium jurusan.
Sebagai institusi pengembangan jurusan dan program studi maka Laboratorium Dakwah menurut Said Tuhulele harus berperan sebagai :
1) Laboratorium Dakwah sebagai pusat peningkatan kompetensi profesionalitas mahasiswa dalam berdakwah. Sehingga Laboratorium Dakwah diharapkan dapat berguna sebagai wahana untuk melatih mahasiswa agar benar-benar memiliki keterampilan dan keahlian dalam berdakwah yang sesuai dengan jurusan dan program studi yang ditekuni.
2) Laboratorium Dakwah sebagai pusat penghimpun informasi-informasi dakwah, baik dalam hubungannya dengan sifat, karakter dan problem yang dihadapi oleh obyek dakwah maupun potensi-potensi yang dimiliki oleh umat dalam mendukung tugas dakwah. Untuk menjadikan diri sebagai pusat informasi dakwah maka Laboratorium Dakwah harus melakukan kegiatan penelitian dakwah, sehingga informasi yang dimiliki dan dikembangkan dalam pelatihan dan praktikum dakwah benar-benar disandarkan pada informasi yang akurat dan realistik.
3) Laboratorium Dakwah sebagai pusat pelayanan dan pengabdian masyarakat. Artinya, Laboratorium Dakwah dalam arti kancah maupun klasikal dapat memberikan informasi-informasi dan bimbingan kepada pemakai jasa dakwah, baik secara langsung maupun melalui media tertentu dalam bentuk konsultasi, penyuluhan, dan kegiatan-kegiatan lainnya.
Sedangkan menurut Amrullah Ahmad, bahwa Laboratorium Dakwah memiliki fungsi mikro dan fungsi makro, yaitu :
a) Fungsi Mikro Laboratorium Dakwah, yaitu fungsi dalam kaitannya dengan pendidikan atau Fakultas Dakwah. Fungsi ini meliputi :
1) Tempat merancang model-model dakwah Islam yang relevan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.
2) Tempat praktikum mahasiswa untuk mata kuliah yang perlu pendalaman teknis dan ujicoba model dakwah dalam praktek.
3) Tempat rekayasa masa depan umat dalam mencapai tujuan dakwah Islam.
4) Pusat informasi menejemen pengembangan system pemdidikan ilmu dakwah
5) Tempat beramal sholeh, karena kegiatan aplikasi model dakwah dalam masyarakat adalag wujud nyata amal sholeh mahasiswa dan dosen dalam memecahkan dan mengantisipasi masalah umat Islam dalam didang social, ekonomi, dan lingkungan dalam perspektif Islam.
6) Tempat membangun teori “dakwah baru” setelah “teori lama” runtuh ditelan realitas masyarakat. Gejala dakwah dalam masyarakat tidak dapat lagi dijelaskan dan dikontrol dengan teori yang dimaksud.
b) Fungsi Makro Laboratorium Dakwah, yaitu fungsi terkait dengan kegiatan dakwah umat Islam. Fungsi ini meliputi :
1) Pusat informasi dakwah bagi lembaga-lembaga dakwah Islam.
2) Pengaya teori dan model dakwah bagi pelaksanaan dakwah Islam.
3) Sebagai jembatan keilmuan, karena pendidikan tinggi belajar bersama dan dari masyarakat. Sebaliknya masyarakat belajar bersama dan dari perguruan tinggi. Masyarakat ditempatkan sebagai sumber ilmu yang kontektual, sedangkan perguruan tinggi ditempatkan sebagai juru bahasa masyarakat menurut kondisi nyata yang melingkupi kehidupan mereka.
Mengingat fungsinya yang demikian luas, maka Laboratorium Dakwah harus memiliki berbagai divisi (kompartemen) untuk menjalankan secara spesifik fungsi-fungsi di atas. Menurut M. Nafis, kompartemen tersebut dapat dibuat berdasarkan paradigma akademik-keilmuan, paradigma profesional, dan paradigma sosial; serta paling tidak dapat mencakup berbagai area masalah seperti :
1. Peta Dakwah
Problem mendasar yang dihadapi oleh dakwah sekarang ini adalah kesenjangan konstruk dakwah dengan realitas sosial. Dakwah seringkali dijalankan tanpa melihat dan menjawab realita permasalahan yang dihadapi masyarakat. Hal demikian telah membawa dakwah menjadi idealistik, bukan utopis. Untuk mengurangi kesenjangan tersebut pembuatan peta dakwah baik dalam skala nasional maupun lokal merupakan keniscayaan; karena dengan peta dakwah seluruh permasalahan akan tergambar dengan jelas dan obyektif, yang kemudian dakwah akan lebih terfokus dan kontekstual. Pembuatan peta dakwah merupakan kompartemen pertama dalam Laboratorium Dakwah dengan didukung seperangkat komputer dan tenaga yang profesional.
2. The Operation Room
Membuat solusi yang tepat, sistematis dan operasional terhadap permasalahan dakwah merupakan problem lain yang perlu mendapatkan perhatian. Meskipun data lapangan sudah terdokumentasi dengan baik, ternyata masih dibutuhkan kompartemen tersendiri yang akan menganalisis prioritas masalah dan solusi yang akan diambil. Melalui proses yang demikian akan diperoleh kejelasan arah persyaratan-persyaratan yang harus diambil dan tahapan-tahapan sistematis yang harus ditempuh. Aspek ini ditempatkan pada sebuah kamar yang disebut “the operation room”.
3. Menejemen Dakwah
Kemampuan dan kecakapan menejerial merupakan problem lain yang cukup serius. Perencanaan, organisasi, pelaksanaan dan evaluasi seringkali tidak dilaksanakan. Kalaupun dilaksanakan, seringkali tidak ada konsistensi. Oleh sebab itu peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang menejemen harus merupakan prioritas lain dari laboratorium dakwah dan akan ditangani oleh kompartemen khusus.


4. Media Elektronik
Problem lain yang cukup menonjol adalah rendahnya kualitas dan kuantitas pemanfaatan berbagai media elektronik. Padahal pada era globalisasi, media elektronik telah dan akan memainkan peranan yang sangat penting untuk menyampaikan aneka informasi dan mempengaruhi perubahan yang akan terjadi. Dalam konteks ini, kemampuan dan ketrampilan penggunaan media elektronik, utamanya media audio dan audio visual, serta kemampuan menejemen produksi siaran perlu ditangani oleh kompartemen khusus. Dari kompartemen ini peserta didik diharapkan akan meningkat kualitasnya dan terampil memanfaatkan berbagai media elektronika yang ada.
5. Media Tradisional
Terdapat kecenderungan bahwa media komunikasi tradisional mulai ditinggalkan. Padahal kenyataannya di lapangan menunjukkan bahwa media tradisional, khususnya khotbah, pengajian dan kesenian masih cukup efektif untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah. Oleh karenanya, kecakapan penggunaan media tradisional masih perlu ditangani oleh salah satu kompartemen di Laboratorium Dakwah.
6. Media Cetak
Untuk jangka waktu yang tidak terbatas, media cetak masih akan berpengaruh dalam penyebaran informasi kepada masyarakat dan pembentukan opini publik. Pada sisi yang lain, dakwah belum memanfaatkan secara maksimal media cetak tersebut. Oleh sebab itu, kemampuan tulis-menulis dan latihan–latihan jurnalistik pers merupakan kebutuhan mendesak untuk ditangani oleh kompartemen tersendiri dalam Laboratorium Dakwah.
7. Bimbingan dan Penyuluhan Agama
Perkembangan masyarakat modern yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menawarkan berbagai kemajuan pada seluruh aspek kehidupan manusia. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengakibatkan berbagai problematika kejiwaan, baik pada level munculnya “mental disorder” maupun kehilangan orientasi diri dalam memanfaatkan lingkungan. Dalam suasana demikian, dakwah tidak dapat tinggal diam. Sebaliknya ia harus memasuki kawasan tersebut secara sistematis dan fungsional. Perintisan pusat “religious therapy” dan bimbingan agama secara umum merupakan alternatif yang harus diambil dan perlu ditangani oleh kompartemen khusus pula dalam Laboratorium Dakwah.
C. Sebuah Tawaran: Optimalisasi Fungsi Labda bagi Pening-katan Mutu Akademik Mahasiswa melalui SKK Berbasis Kompetensi
Berdasarkan pada hasil penelitian, kritik dan saran, serta keinginan dari mahasiswa yang memandang bahwa Labda belum optimal dipergunakan oleh sebagian besar mahasiswa untuk peningkatan kompetensi mereka, maka salah satu yang ditawarkan penulis adalah membuat mekanisme yang baku dan mengikat agar semua mahasiswa dapat aktif memanfaatkan dan mengikuti beberapa kegiatan di Labda, sehingga mahasiswa benar-benar dapat berkompeten di bidangnya.
Laboratorium Dakwah sementara ini baru dimanfaatkan oleh mahasiswa-mahasiswa yang memang punya interest terhadap beberapa kegiatan di Labda, seperti di PH, Radio, dan lain-lain. Sementara mahasiswa yang tidak interest terhadap beberapa kegiatan di Labda, enggan mengikuti beberapa kegiatan di Labda; mereka hanya menggunakan Labda ketika Praktikum Kuliah yang dibimbing oleh dosen pengampu, maupun ketika Simulasi PPL yang dibimbing oleh dosen pembimbing PPL, di luar itu mereka enggan memanfaatkan sarana prasarana yang ada di Labda, padahal mereka memiliki hak yang sama. Semua itu terjadi barangkali karena belum ada aturan yang mengatur mekanisme penggunaan Laboratorium Dakwah, yang dapat “memaksa” mahasiswa agar aktif mengikuti beberapa kegiatan yang dilaksanakan Laboratorium Dakwah.
Menurut penulis, ada satu satu mekanisme yang dapat “memaksa” mahasiswa untuk aktif di Labda yaitu melalui beban SKK yang harus ditempuh oleh mahasiswa ketika kuliah. Sementara ini Pelaksanaan kegiatan Ekstra Kurikuler bagi mahasiswa diatur dalam Keputusan Rektor IAIN Walisongo Nomor 23A Tahun 2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Ekstra Kurikuler Mahasiswa IAIN Walisongo. Ketentuan Umum, Aspek-aspek kegiatan, Beban SKK, dan Sistem Penilaian semuanya diatur dalam pasal-pasal (sebagaimana terlampir). Desain Satuan Ko Kurikuler (SKK) bagi mahasiswa barangkali perlu diterjemahkan kembali sehingga lebih terarah sesuai kompetensi masing-masing mahasiswa di masing-masing fakultas. Di Pasal 7 SK Rektor tersebut ada peluang bagi Dekan untuk menentukan program kegiatan ektra kurikuler wajib bagi mahasiswa. Sementara ini, yang diwajibkan untuk diikuti mahasiswa hanya Passka, Orka, dan Pelatihan Pengkaderan. Selain itu mahasiswa hanya dibebani untuk mengikuti beberapa Satuan Ko Kurikuler (SKK) baik intra maupun ekstra kampus, sebagai syarat untuk dapat mengikuti ujian komprehensif, dll. Namun yang menjadi masalah, bahwa Satuan Ko Kurikuler (SKK) antara mahasiswa fakultas satu dengan fakultas lain, antara mahasiswa jurusan satu dengan jurusan yang lain masih sama bentuk kegiatannya. Penulis mengusulkan agar Satuan Ko Kurikuler (SKK) didesain berbasis kompetensi. Sehingga kegiatan-kegiatan yang harus diikuti antara fakultas/ jurusan satu dengan yang lain berbeda-beda, sehingga kegiatan-kegiatan itu dapat mendukung kompetensi utama dari mahasiswa yang bersangkutan.
Sebagai contoh mahasiswa Fakultas Dakwah secara makro wajib mengikuti Pelatihan Qiro’ah, Ibadah dan Dakwah (seperti yang dikelola Labda UIN Syarif Hidayatullah). Demikian juga secara mikro mahasiswa Komunikasi dan penyiaran Islam (KPI) wajib mengikuti kegiatan di Divisi Broadcasting dan Publishing Labda, mahasiswa Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) wajib mengikuti kegiatan di Divisi Konseling Labda, demikian juga mahasiswa Menejemen Dakwah (MD) wajib mengikuti kegiatan di Divisi Kelembagaan Islam Labda; dan dalam hal ini Laboratorium Dakwah memiliki kewenangan untuk mengeluarkan sertifikat bagi mahasiswa, sebagai syarat pemenuhan Satuan Ko Korikuler (SKK). Dengan desain seperti ini, Insya Allah mahasiswa akan lebih berkualitas kompetensinya, demikian juga fungsi Laboratorium Dakwah lebih berdaya guna bagi peningkatan kompetensi mahasiswa.

D. KESIMPULAN
Sebagai konsekuensinya maka Labda juga harus memperbanyak kegiatannya (pelatihan-pelatihan terstruktur), SDM Laboran ditingkatkan, fakultas menyediakan dana/ biaya (baik dari akademik atau kemahasiswaan), demikian juga perlu dihidupkan unit-unit/ organisasi kegiatan mahasiswa di bawah divisi-divisi di Labda (yang terdiri dari 6 divisi). Kalau sementara ini hanya ada Pengurus siar Radio dan Pengurus PH yang berada di bawah Divisi Broadcasting, maka di masing-masing divisi juga dapat dibentuk unit kegiatan mahasiswa yang pengurus dan kegiatannya kita serahkan kepada mahasiswa. Pembukaan UKMF baru sangat dimungkinkan, karena sesuai SK Rektor IAIN Walisongo Nomor 03 Tahun 2004 tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan IAIN Walisongo, Pasal 18 ayat 4, mekanisme pembentukan UKMF ditentukan oleh Badan Koordinator Mahasiswa (BKM). Dengan langkah-langkah seperti itu, Laboratorium Dakwah akan banyak dan ramai dipergunakan oleh mahasiswa untuk melaksanakan beberapa kegiatan.




DAFTAR PUSTAKA

Alfandi,, M.,“Laboratorium Sebagai Daya Dukung Pengembangan Fakultas”, dalam Jurnal Ilmu Dakwah Volume 22 Nomor 2, Juli-Desember 2002.
Alfandi,, M., dkk. “Dukungan Kurikulum Pendidikan Terhadap Profesi Alumni Fakultas Dakwah IAIN Waliosngo” (Laporan Penelitian), tahun 2008.
Aziziy, A. Qadry A., Membangun IAIN Walisongo Ke Depan (Langkah Awal), (Semarang : Gunung Djati, 2001).
Fadjar, A. Malik, Reorientasi Pendidikan Islam, Cet 1, (Jakarta : Fadjar Dunia, 1999).
IAIN Walisongo, Pedoman Akademik IAIN Walisongo Semarang, tahun 1999.
Keputusan Menteri Pendidikan Nasdional Nomor 045/U/2002.
Nafis, M., Dakwah, Perubahan Sosial dan Urgensi Laboratorium Dakwah, Makalah disampaikan dalam “Seminar Nasional Dakwah dan Media Elektronika, di IAIN Walisongo Semarang, tanggal 23-24 September 1994.
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999, Pasal 50.
Satmoko, Retno Sriningsih, Landasan Kependidikan (Pengantar Ke Arah Ilmu Pendidikan Pancasila), Cet.1, (Semarang : IKIP Semarang Press, 1999).
Surat Keputusan Rektor IAIN Walisongo Nomor 32 Tahun 1999, tanggal 4 Agustus 1999 tentang Pedoman Akademik IAIN Walisongo Semarang.
Surat Keputusan Rektor IAIN Walisongo Nomor 03 Tahun 2004 tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan IAIN Walisongo
Surat Keputusan Rektor IAIN Walisongo Nomor 23A Tahun 2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Ekstra Kurikuler Mahasiswa IAIN Walisongo
Tim Penyusun, “Program Kerja Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang : 2003-2006
Tuhulele, Said. Format, Tata Kerja dan Eksistensi Laboratorium Dakwah Dalam Perspektif Perguruan Tinggi, makalah disampaikan dalam “Lokakarya Nasional Rekonstruksi Kurikulum Program Studi dan pemberdayaan Laboratorium Dakwah Fakultas Dakwah Menuju Realitas Akademik dan Profesi”, Semarang, 24-28 Januari 2000.
Umul Baroroh, dkk. “Persepsi Mahasiswa Fakultas Dakwah terhadap Peran dan Fungsi Laboratorium Dakwah dalam Peningkatan Kualitas akademik Mahasiswa” (Laporan Penelitian Kelompok), IAIN Walisongo, 2007.
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1999

No comments:

Post a Comment