Wednesday, April 20, 2011

DAKWAH ANTISIPASI EROTISME DAN PORNOGRAFI


PENDEKATAN DAKWAH DALAM MENGANTISIPASI
DAMPAK EROTISME DAN PORNOGRAFI DI MEDIA MASSA
Oleh : M. Alfandi
Abstraksi
Perkembangan di bidang teknologi informasi dan komunikasi massa, di satu sisi menggembirakan tetapi di sisi lain juga sangat mengkawatirkan bagi keberlangsungan proses dakwah Islamiyah. Menggembirakan, karena dapat memberikan kemudahan-kemudahan bagi manusia, demikian juga dalam bidang dakwah; dakwah dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Namun demikian juga mengkawatirkan bahkan menyedihkan, karena semua itu juga dapat berdampak negatif bagi kehidupan manusia. Pengaruh tersebut akan tampak nyata pada perubahan tingkah laku dan nilai-nilai norma budaya manusia.
Fenomena yang akhir-akhir ini meresahkan masyarakat, terutama jika dilihat dari perspektif religious adalah bergesernya nilai-nilai moralitas, yakni merebaknya ekspose atau tayangan erotisme dan pornografi di media massa. Ekspose atau tayangan ini merupakan bagian dari proses komunikasi yang tidak dapat dilepaskan dari problematika dakwah. Perkembangan yang terjadi dalam bidang komunikasi massa juga akan berdampak pada perkembangan dakwah. Makanya dakwah tidaklah cukup hanya dilakukan dengan strategi dan metode konvensional, tetapi sudah selayaknya mengikuti perkembangan teknologi komunikasi.
Adanya tantangan dakwah tersebut, membutuhkan pemikiran tentang pendekatan dakwah. Ada beberapa pendekatan dakwah yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi merebaknya erotisme dan pornografi di media massa, diantaranya adalah pendekatan bisnis media, Hukum dan religious.

Kata Kunci : Dakwah, Erotisme, Pornografi, dan Media Massa
A. Pendahuluan
Munculnya teknologi baru dibidang komunikasi massa seringkali menimbulkan pertanyaan tentang dampaknya terhadap masyarakat. Saat pertama kali “radio bergambar” yang kini kita kenal dengan nama “televisi” diperkenalkan kepada umum pada tahun 1939 di World’s Fair – New York, teknologi tersebut menimbulkan kekaguman sekaligus kekhawatiran. Kini, lebih dari setengah abad kemudian, telah bermacam- macam teknologi di bidang komunikasi massa dikembangkan dan dipasarkan. Perkembangan itu, seperti terjadinya konvergensi teknologi dari media komunikasi elektronika yang didalamnya dikembangkan teknologi kompresi dan digital. Konvergensi media komunikasi tersebut telah membuahkan fenomena baru, yakni media interaktif yang mengarah ke suatu bentuk komunikasi baru, yaitu unimedia. Teknologi ini disebut unimedia karena semua unsur telah dikombinasikan dan dirubah dalam bentuk digital. Konvergensi media komunikasi massa ini merupakan bentuk baru yang juga disebut sebagai hypermedia yakni terpadunya teknologi gambar, suara, tulisan/teks dan animasi dalam satu kesatuan perangkat yang terkomputerisasi.
Revolusi teknologi komunikasi massa sebagaimana telah tersebut merupakan kekuatan yang mendorong terjadinya perubahan-perubahan dalam tata kehidupan manusia baik dalam lingkup yang sempit, seperti keluarga dan lingkungan, maupun dalam konteks yang lebih luas yang menyangkut hubungan antar manusia, antar lembaga, bahkan antar bangsa. Teknologi komunikasi telah merubah cara hidup dan gaya hidup manusia abad kini, termasuk tata cara bekerja, belajar, berbelanja, bermain, dan tata cara berkomunikasi.
Kita melihat dalam revolusi teknologi tersebut tak dapat dihindari terjadinya revolusi kekuatan dan polah tingkah manusia. Karena itu mau tidak mau, suka atau tidak, dakwah Islam sebagai corong agama dituntut harus mampu menyesuaikan dengan perkembangan teknologi komunikasi tersebut. Dalam hal ini harus pula terjadi percepatan gerakan dari lembaga-lembaga dakwah dengan menggunakan media komunikasi yang semakin canggih tersebut. Kegagalan lembaga dakwah dalam merespon perkembangan media ini akan berakibat terus tertinggalnya kegiatan dakwah, yang berakibat pula terhadap semakin jauhnya masyarakat terhadap kegiatan dakwah.
Lembaga-lembaga dakwah sekarang dihadapkan pada tantangan globalisasi yang sangat berat. Yakni adanya kemajuan sains dan teknologi yang dapat menggoyahkan batas etika dan moral. Sistem politik dan sistem ekonomi yang berideologikan liberalisme dan kapitalisme yang berpangkal pada sekulerisme, serta budaya global yang didominasi Barat juga sering dipaksakan berlaku di negeri-negeri lain, termasuk di Indonesia. Budaya global ini juga bercirikan pendewaan diri, kebendaan dan hawa nafsu (nafsu syahwatiyah) yang potensial dapat melunturkan aspek religiusitas masyarakat serta meremehkan peran agama dalam kehidupan umat manusia.
Globalisasi berarti juga arah perkembangan atau kecenderungan untuk menyatukan gerak serta hubungan hidup bangsa-bangsa di dunia, di berbagai bidang kehidupan yang didukung oleh sarana prasarana tertentu, terutama kemajuan teknologi informasi, komunikasi dan transportasi. Futurolog John Naisbitt mengatakan : “The new source of power is not money in the hands of a few but information in the hands of many” (Kekuatan baru dewasa ini bukanlah harta karun di tangan segelintir manusia, tetapi jaringan informasi di tangan banyak manusia).
Perkembangan di bidang teknologi informasi, komunikasi dan transportasi yang luar biasa ini, di satu sisi menggembirakan tetapi di sisi lain juga sangat mengkawatirkan bagi keberlangsungan proses dakwah Islamiyah. Menggembirakan, karena dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi informasi, komunikasi dan transportasi dapat memberikan kemudahan-kemudahan bagi manusia. Seperti manusia dapat mendarat di bulan; manusia dapat melihat peristiwa yang terjadi di belahan dunia yang berbeda dalam waktu yang sama; manusia dapat berkomunikasi secara langsung secara audio maupun audio visual dengan manusia lain antar kota, negara, benua bahkan antar planet; manusia dapat berada di negara atau benua yang berbeda pada hari yang sama.
Demikian juga dalam bidang dakwah; dakwah dapat berlangsung secara efektif dan efisien, karena seorang da’i yang akan melaksanakan dakwahnya tidak harus bertatap muka secara langsung dengan mad’unya. Dengan bantuan teknologi informasi da’i dapat menyampaikan pesan dakwahnya secara cepat dan menjangkau banyak mad’u. Hal ini semua berkat kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi informasi, komunikasi dan transportasi.
Namun demikian perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi informasi, komunikasi dan transportasi juga mengkawatirkan bahkan menyedihkan, karena semua itu juga dapat berdampak negatif bagi kehidupan manusia. Pengaruh tersebut akan tampak nyata pada perubahan tingkah laku dan nilai-nilai norma budaya manusia. Dengan kemajuan teknologi informasi misalnya, manusia dapat menerima pengaruh budaya negara lain yang tidak sesuai dengan budaya suatu negara; sebagai contoh dalam bidang mode pakaian, cara bergaul bebas, maupun budaya-budaya lainnya. Hal ini terjadi karena dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi tersebut mau tidak mau, suka tidak suka, akan membawa dampak pembauran peradaban dan kebudayaan antar bangsa di dunia. Yang lebih parah jika ilmu pengetahuan dan teknologi informasi tersebut disalahgunakan dan dipergunakan secara negatif.
Fenomena yang akhir-akhir ini meresahkan sebagian masyarakat, terutama jika dilihat dari perspektif religious adalah bergesernya nilai-nilai moralitas masyarakat. Banyak orang yang menempuh jalan pintas dalam mengejar banyaknya penghasilan dan popularitas. Ekspose atau tayangan erotis dan porno di media massa merupakan salah satu tayangan atau “menu” yang hampir setiap saat dapat diakses oleh masyarakat dari berbagai kalangan dan usia dalam bentuk iklan.
Kasus pornografi yang cukup menghebohkan akhir-akhir ini, yang sedang ditangani pihak Kepolisian Negeri ini adalah beredarnya video porno di dunia maya yang konon melibatkan seseorang yang mirip dengan artis terkenal Ariel Peterpan dengan artis Luna maya dan Cut Tari. Dari hasil survey singkat yang dilakukan oleh Hadi Supeno, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terhadap 30 (tiga puluh remaja) yang berada di kota Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Jayapura dan beberapa kota lainnya, menunjukkan bahwa 80 %, atau 24 anak diantaranya pernah menonton tayangan video itu, dan bahkan yang lebih mengerikan lagi 60 %-nya atau 18 orang diantaranya mempunyai keinginan untuk melakukan hubungan sex intercose setelah menonton film itu. Hasil survey tersebut menunjukkan bagaimana parahnya erotisme dan pornografi di media massa telah mencekoki generasi muda yang didambakan untuk masa depan bangsa ini. Padahal menurut Evendy Ghozali, sekarang ini dalam setiap harinya terdapat 2 (dua) video porno yang di upload ke internet.
Menurut Mahfud Ali, bahwa pornografi dan pornoaksi di Indonesia sudah pada tahapan yang sangat menyedihkan dan meresahkan masyarakat. Keprihatinan ini tidak hanya didasarkan pada hasil riset kantor berita Assosiated Press (AP), yang menempatkan Indonesia sebagai surga pornografi nomor 2 (dua) di dunia setelah Rusia, namun kenyataannya aktifitas pornografi dan pornoaksi melenggang dengan derasnya di media massa, baik media cetak maupun elektronik, bahkan mungkin telah menjadi pilihan dalam berperilaku.
Dalam konteks dampak media massa, erotisme di media massa audio visual dampaknya lebih besar jika dibandingkan dengan erotisme di media massa cetak, karena media audio visual memiliki kapasitas yang lebih utuh. Penampakannya dapat dilihat dan didengar, sehingga efeknya bagi audiens tidak perlu membayangkan ide yang disampaikan karena telah tersaji dengan jelas. Hal ini berbeda dengan media cetak dan media audio yang hanya mempu menarasikan muatan idenya, sehingga audiens masih harus membayangkan terlebih dahulu apa yang dinarasikan. Sehingga menurut Hadi Supeno, bahwa menonton tayangan pornografi di media audio visual bagi remaja lebih berbahaya jika dibandingkan dengan mengkonsumsi narkoba. Menurutnya bayangan yang ada di pikiran remaja akibat menonton tayangan pornografi, akan lebih bertahan lama jika dibandingkan karena mengkonsumsi narkoba. Yang hal ini akan berdampak pada perilaku remaja, seperti melakukan pelecehan seksual, melakukan pemerkosaan, dan melakukan seks pra nikah.
Makanya tidak mengherankan jika beberapa penelitian terhadap perilaku seks remaja membuahkan suatu keprihatinan. Hal ini terlihat dari penelitian tentang dampak pornografi dan pornoaksi tahun 2.000 yang dimuat dalam terbitan Kementerian Pemberdayaan Perempuan, yang menyimpulkan bahwa perilaku remaja “Sangat Memprihatinkan”. Penelitian ini dilakukan di 3 (tiga) provinsi, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, dengan responden 4.000 responden siswa pelajar. Separuhnya (2.000 responden) diambil dari desa dan separuhnya (2.000 responden) diambil kota. Hasil yang diperoleh , yaitu :
1. Sebanyak 46 % siswa SD, SMP, dan SMU “putus sekolah”.
2. Dari yang putus sekolah tersebut, 36 %-nya menikah sebelum berumur 15 tahun.
3. Dari yang menikah sangat muda tersebut, 50%-nya pernah melakukan hubungan seks sebelum menikah.
4. Dari yang pernah melakukan hubungan seks pra nikah tersebut, 70%-nya melakukan hubungan seks di dalam rumahnya sendiri, karena orang tua sibuk dan jarang di rumah.
5. Sebagian besar remaja mendapatkan informasi tentang seks dari teman-teman dan sumber lainnya. Sedangkan teman-teman mereka yang tahu tentang seks, memperoleh informasi dari bacaan (media cetak), televise, VCD, film dan internet.
Maraknya ekspose atau tayangan erotisme dan pornografi di media massa tersebut tentu saja mendorong banyak pihak yang mempunyai concern untuk menjaga moralitas masyarakat dari dampak yang ditimbulkannya, untuk berfikir dan merumuskan strategi dan metode yang bagaimana agar erotisme tersebut tidak berdampak negatif bagi kehidupan anak bangsa, tidak terkecuali Lembaga-Lembaga Dakwah yang berbentuk organisasi massa (Ormas) Islam.
Ekspose atau tayangan erotisme dan pornografi di media massa sebagaimana telah tersebut merupakan bagian dari proses komunikasi yang tidak dapat dilepaskan dari problematika kegiatan dakwah di era globalisasi ini. Perkembangan yang terjadi dalam bidang komunikasi massa juga akan berdampak pada perkembangan dakwah. Makanya dakwah tidaklah cukup hanya dilakukan dengan metode dan media konvensional, tetapi sudah selayaknya mengikuti perkembangan teknologi komunikasi. Perkembangan industri media informasi dan komunikasi massa –sebagai dampak dari era globalisasi- menjadikan berlimpahnya informasi (overload information) yang tersedia bagi masyarakat. Kondisi tersebut juga mengakibatkan terjadinya pergeseran-pergeseran pemikiran, sikap, tingkah laku, bahkan paradigma dalam kehidupan masyarakat. Hal tersebut merupakan tantangan dakwah dalam era globalisasi informasi yang hampir meniadakan batas wilayah, dan selanjutnya menjadi tantangan dan tuntutan Lembaga-Lembaga Dakwah untuk dapat mengikuti perkembangan teknologi media massa tersebut.
Media massa merupakan alat yang cukup mumpuni dimanfaatkan sebagai media dakwah, karena media massa memunculkan keserempakan dalam hal penyampaian pesan (materi dakwah). Dengan demikian, materi dakwah dapat diterima dalam waktu bersamaan oleh berbagai kalangan dan lapisan masyarakat. Dakwah bukan lagi menjadi milik satu lapisan masyarakat tertentu, tetapi sudah menjadi umum sifatnya. Hal tersebut diperkuat dengan menipisnya batas demografis antar bangsa. Sehingga dakwahpun dapat melampui batas-batas yang masih ada, menembus seluruh masyarakat di berbagai budaya (multicultural).
Sudah selayaknya dakwah tidak lagi hanya dilakukan dengan strategi, metode dan media konvensional. Pemahaman da’i –sebagai salah satu pelaku dakwah- tentang karakteristik media massa, akan memudahkan yang bersangkutan dalam memilih media dakwah yang sesuai dengan dirinya dan mad’u.
Adanya tantangan dakwah tersebut, membutuhkan pemikiran, penelitian serta uji coba terhadap strategi, metode, dan teknik dakwah. Program-program dakwah Islam yg akan dan sudah diselenggarakan oleh Lembaga-Lembaga Dakwah harus dikaji ulang dengan penelitian, eksperimen maupun evaluasi. Dengan upaya ini diharapkan tujuan dakwah Islam, yaitu terbentuknya masyarakat madani yang berlandaskan nilai-nilai Islam dengan tetap menjunjung tinggi budaya bangsa yang sesuai dengan tuntunan Islam akan dapat terwujud.

B. Erotisme dan Pornografi
Erotisme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai (1) keadaan bangkitnya nafsu birahi; (2) keinginan akan nafsu seks secara terus menerus. Sedangkan di dalam bahasa Inggris (The American Heritage Dictionary 1985), eroticism didefinisikan sebagai (1) an erotic quality or theme; (2) sexual excitement; (3) abnormally persistent sexual excitement. Dari tiga definisi dalam bahasa Inggris, definisi (2) dan (3) sesuai dengan apa yang ada dalam KBBI. Pada definisi (1) terkandung sifat dan tema erotis atau erotic yang berarti (1) of or concerning sexual love and desire; (2) tending to arouse sexual desire; (3) dominated by sexual love or desire.
Dalam Bahasa Perancis (Kamus Lexis 1979) pun mempunyai pengertian yang sama dengan bahasa Inggris. Namun pada kata erotisme ada bagian yang penting yaitu ”sous-tendus par le libido” yang berarti ”didasari oleh libido” atau ”diilhami oleh libido”. Sedangkan libido dalam KBBI diartikan sebagai ”nafsu berahi yang bersifat naluri”. Kata libido ini berasal dari bahasa Latin ’desir’ yang berarti ’keinginan’, ’hasrat’.
Sehingga dengan demikian erotisme berkaitan erat dan bahkan didasari oleh libido yang dalam perkembangan selanjutnya teraktualisasi dalam keinginan seksual. Sekarang mari kita kaitkan dengan pornografi yang juga didasari oleh hal-hal yang berkaitan dengan nafsu seksual.
Dalam KBBI, pornografi didefinisikan ”(1) penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu berahi; (2) bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu birahi dalam seks.” Definisi ini sejalan dengan definisi pornography (The American Heritage Dictionary, 1985), yaitu ’the presentation of sexually explicit behavior, as in photograph, intended to arouse sexual excitement.”
Dengan dua definisi di atas, kita sudah dapat melihat ada kaitan antara erotisme dan pornografi. Namun terlihat juga perbedaan diantara keduanya. Kata kuncinya disini adalah libido, nafsu birahi, nafsu seksual. Perbedaannya dalam erotisme, libido merupakan dasar atau ilham untuk menggambarkan sesuatu yang lebih luas (misalny konsep cinta , perbedaan antar jenis, atau masalah yang timbul dalam interaksi sosial), sedangkan dalam pornografi yang menonjol adalah penggambaran secara sengaja tingkah laku seksual dengan tujuan membangkitkan nafsu seksual.
Kalau ditelusuri asal kata erotisme dan pornografi berasal dari kata Yunani. Erotisme dari kata Yunani kuno Eros, yaitu ”nama dewa cinta, putera Aphrodite”, sedangkan pornografi berasal dari bahasa yang sama yaitu porne yang berarti ”pelacur” dan graphein ”menulis”.
Terlihat makna erotisme lebih mengarah pada ”penggambaran perilaku, keadaan atau suasana yang didasari oleh libido dalam keinginan seksual”, sedangkan makna pornografi lebih cenderung pada ”tindak seksual yang ditonjolkan” untuk membangkitkan nafsu birahi. Pornografi dalam bahasa Perancis ”representation des chose obscenes en matiere litteraire ou artistique; publications obscenes” lebih melihat sifat ”kasar” yang ada dalam pornografi, yaitu penyajian hal-hal yang cabul dalam sastra atau seni; penerbitan cabul. Sedangkan menurut KBBI cabul didefinisikan sebagau ”keji dan kotor; tidak senonoh (melanggar kesopanan, kesusilaan).
Erotisme tidak mempunyai makna dasar ”cabul”, melainkan menggambarkan perilaku, keadaan, atau suasana berdasarkan atau berilhamkan ”libido dan Seks”. Sebaliknya pornografi mempunyai makna dasar ”cabul”, ”tidak senonoh” dan ”kotor”. Pembedaan makna dasar ini penting agar kita dapat lebih memahami makna erotisme.
Sering dikatakan orang antara erotisme dan pronografi terdapat perbatasan yang samar atau bahkan wilayah maknanya sebagai tumpang tindih. Masalah ini juga dihadapi pada penelitian pornografi dalam pers Indonesia (Rachim, 1977). Hal itu karena dalam pornografi selalu ada erotisme, tidak semua yang erotis itu pornografis. Oleh karena itu, dalam membicarakan erotisme dan pornografi kita terpaksa melihatnya sebagai suatu continuum yang bergeser dari satu ujung (erotisme) ke ujung lainnya (pornografi). Pornografi adalah penyajian tindakan cabul, yang intinya adalah tindakan seksual, yang sengaja ditujukan untuk menimbulkan nafsu berahi atau nafsu seksual. Erotisme sendiri adalah penggambaran perilaku, keadaan, atau suasana yang didasari oleh libido sehingga dapat menimbulkan nafsu berahi.
Ada yang mengatakan di dalam memahami apakah sesuatu yang erotis itu pornografis atau tidak, tergantung pada kebudayaan yang kita miliki. Bagi kalangan tertentu mungkin sesuatu dianggap porno, sementara di tempat lain tidak. Contoh lain mengenai bibir. Bibir perempuan dalam masyarakat eropa atau Amerika merupakan bagian tubuh yang dapat memberikan dampak erotis. Kelompok masyarakat yang disebut ”modern” di Indonesia, karena pengaruh kebudayaan Eropa dan Amerika lambat laun memberikan kepada bibir perempuan juga konotasi erotis. Akan tetapi, belum tentu konotasi seperti itu terjadi dalam masyarakat lain, misalnya masyarakat pedalaman Papua. Oleh karena itu, sekarang menjadi jelas mengapa pornografi atau tidaknya sebuah teks (atau gambar) seringkali tergantung dari kebudayaan masyarakat yang menanggapinya. Jadi batas yang ”tidak jelas” antara erotisme dan pornografi adalah karena dampak erotis hanya terjadi karena penafsiran/pemaknaan pembacanya yang merupakan bagian dari suatu kebudayaan tertentu.

C. Pendekatan Dakwah Dalam Mengantisipasi Dampak Erotisme dan Pornografi di Media Massa
1. Pendekatan Bisnis Media
Ada persoalan yang harus diketahui dan difahami bahwa media yang ada sekarang ini didirikan tidak bisa lepas dari kepentingan profit oriented, sehingga kebijakan content media juga tidak bisa lepas dari unsur “bisnis”, yaitu pertimbangan untung dan rugi, dan di balik semua kepentingan politik media muaranya juga masalah bisnis. Hal ini dapat dimaklumi, karena pendirian perusahaan media memang didukung oleh filosofi deregulasi peralihan kepemilikan mass media dari pemerintah ke swasta, diantaranya :
a. Sektor swasta yang oleh hasil pembangunan menjadi semakin kuat dan besar, sehingga membutuhkan institusi pendukung untuk promosi produk dan jasanya dalam bentuk antara lain media massa.
b. Kebutuhan sektor bisnis telah membuat media massa menjadi sasaran yang menjanjikan. Penanaman modal di sektor mass media di negara berkembang maju pesat sejalan kemungkinan baru mem”bisnis”kan mass media, di samping sisi idealnya.
c. Mass media yang dikelola swasta menjadi lebih kompetitif, efisien dan berorientasi kepada kalayak yang merupakan pasar mereka. Sehingga mass media dikelola secara lebih menarik dan profesional.

Erotisme merupakan instrumen bisnis media yg cukup mujarab. Iklan-iklan produk di media banyak ditawarkan dg erotisme. Wanita-wanita cantik dan seksi sering kita lihat menjadi objek penayangan iklan beberapa produk. Mereka ditampilkan tidak jarang hanya setengah telanjang atau bahkan dua pertiga telanjang. Yang ditonjolkan adalah daya tarik seksualitas dan sensualitas. Paha dan dada tampaknya masih menjadi bumbu kebanyakan iklan.
Menonjolnya hal-hal yang mengumbar aurat atau berkonotasi porno dalam iklan memang memiliki daya tarik tersendiri bagi pemirsanya. Namun hal ini juga membuat konsumer keberatan (hasil Survey YLKI tahun 1996), terutama untuk produk-produk yang terkesan dengan sengaja menggunakan kepornoan untuk menarik perhatian konsumen. Keberatan ini terutama jika produk yang diiklankan terkesan tidak relevan dengan “kepornoan” yang ditampilkan. Sebagai contoh produk hand phone yang diiklankan dengan tampilan gambar hand phone menggelantung di dada perempuan yang “menonjol”.
Contoh lain iklan tegel atau keramik, yang menawarkan tegel keramik dengan menampilkan wanita berpakaian minim dengan penutup dada dari bahan semacam metal dan gaya yang sangat sensual, dan tegel keramik dijadikan sebagai tameng. Demikian juga iklan yang mengundang perdebatan adalah iklan sebuah merk kopi yang dengan rayuan erotis mengatakan “Pas Susunya”. Jadi, mana yang lebih menarik produk hand phone, keramik dan kopi atau wanitanya. Ini hanya merupakan sebagian contoh erotisme dalam bentuk iklan, masih banyak contoh-contoh iklan lain yang tidak disebut dalam tulisan ini.
Erotisme dan pornografi tampil tidak hanya dalam bentuk iklan, tetapi juga dalam bentuk yang lain, yaitu dalam bentuk film porno, sinetron, dan acara-acara yang lain. Bahkan erotisme juga sering terlihat dalam bentuk goyangan-goyangan erotis para penyanyi, dengan pakaian yang serba ketat dan terbuka. Kasus yang pernah menghebohkan “bumi Indonesia” dan memunculkan pendapat pro dan kontra di berbagai kalangan adalah munculnya berbagai macam goyangan erotis dari para artis dangdut kita. Ada goyangan “ngebor yang heboh”, yang kemudian juga diikuti oleh goyangan-goyangan lain, seperti goyang patah-patah, goyang jaipong dengan kaki di angkat satu, goyang gaya kayang, dan masih banyak penyanyi lainnya yang menampilkan goyangan dan tarian erotis.
Merebaknya tayangan yang berbau seks, pornografi, dan pornoaksi sebagaimana tersebut dilihat dari perpektif bisnis media, sebenarnya tidak lepas dari andil umat Islam sebagai konsumer media. Tayangan-tayangan tersebut tetap bisa eksis di media karena banyak dikonsumsi oleh umat Islam sendiri, yang menyebabkan pemasang iklan berani membayar mahal untuk pasang iklan di media-media tersebut.
Oleh karena itu dakwah yang dapat dilakukan melalui pendekatan bisnis media ini adalah : pertama, beri himbauan kepada umat Islam untuk tidak mengkonsumsi media yang mengumbar seks, pornografi, dan pornoaksi. Kedua, jangan membeli produk-produk yang diiklankan dengan mengeksploitasi erotisme dan pornografi. Dengan pendekatan seperti ini diharapkan media atau produk tidak lagi menggunakan instrument erotisme dan pornografi dalam mengembangkan bisnisnya.

2. Pendekatan Hukum
Sudah banyak produk hukum yang mengatur tentang larangan tayangan erotisme dan pornografi baik yang secara implisit maupun eksplisit, yaitu : ,
a. KUHP Bab XIV mengatur tentang kejahatan terhadap kesopanan, yang terdapat di dalam sejumlah pasal diantaranya (a). Pasal 281 : “Dihukum penjara selama-lamanya 2 tahun 8 bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp.4.500,- : (1.e.) “barang siapa merusak kesopanan di depan umum, (2.e.) barang siapa sengaja merusak kesopanan di muka orang lain, yang hadir tidak dengan kemauannya sendiri”. (b). Pasal 282 : (1) “barang siapa menyiarkan, mempertontonkan atau menempelkan dengan terang-terangan suatu tulisan yang diketahui isinya, atau suatu gambar atau barang yang dikenalnya yang melanggar kesopanan…dan seterusnya, dihukum penjara selama-lamanya satu tahun empat bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp.45.000,-“. Selanjutnya dalam KUHP pada Bab VI tentang pelanggaran kesopanan, juga diatur mengenai hal tersebut pada pasal 533, “Dengan hukuman selama-lamanya dua bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp.3.000,- dihukum : (1.e) “barangsiapa pada tempat yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum, mempertunjukkan atau menempelkan sesuatu tulisan yang namanya (kepalanya), sampulnya (kulitnya) atau isinya yang terbaca itu dapat menimbulkan nafsu birahi anak-anak muda, ataupun menunjukkan atau menempelkan sesuatu gambar atau benda yang dapat menimbulkan birahi anak-anak muda”; (2.e) “barangsiapa pada tempat yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum memperdengarkan isi tulisan, yang dapat menimbulkan birahi anak-anak muda”; (3.e) “barangsiapa dengan terang-terangan atau tidak dengan diminta, menawarkan sesuatu tulisan, gambar atau benda yang dapat menimbulkan birahi anak-anak muda, atau dengan terang-terangan atau dengan menyiarkan tulisan, tidak dengan diminta, menunjukkan bahwa tulisan, gambar atau benda itu dapat diperoleh”; (4.e) “barangsiapa menawarkan, memberikan buat selama-lamanya atau buat sementara waktu, menyerahkan atau memperlihatkan suatu tulisan, gambar atau benda sedemikian kepada seorang yang belum dewasa dibawah umur 17 tahun”.
b. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, juga membatasi beredarnya pornografi di media massa, seperti pada Pasal : 5 (1). “Pers nasional berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah”. Pasal 13 : Perusahaan pers dilarang memuat iklan : (a). yang berakibat merendahkan martabat suatu agama dan atau mengganggu kerukunan hidup antar umat beragama, serta bertentangan dengan rasa kesusilaan masyarakat; Pasal 18 (2) Perusahaan pers yang melanggar ketentuan Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2), serta Pasal 13 dipidana denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
c. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi. Undang-undang ini memang secara eksplisit mengatur dan membatasi penyebaran pornografi, hal ini dapat dilihat dari beberapa pasal, seperti Pasal 1 : “Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: (1). Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat”. (2). Jasa pornografi adalah segala jenis layanan pornografi yang disediakan oleh orang perseorangan atau korporasi melalui pertunjukan langsung, televisi kabel, televisi teresterial, radio, telepon, internet, dan komunikasi elektronik lainnya serta surat kabar, majalah, dan barang cetakan lainnya. Pasal 4 (1) Setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat: a. persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang; b. kekerasan seksual; c. masturbasi atau onani; d. ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan; e. alat kelamin; atau f. pornografi anak. (2) Setiap orang dilarang menyediakan jasa pornografi yang : a. menyajikan secara eksplisit ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan; b. menyajikan secara eksplisit alat kelamin; c. mengeksploitasi atau memamerkan aktivitas seksual; atau d. menawarkan atau mengiklankan, baik langsung maupun tidak langsung layanan seksual. Pasal 5 : Setiap orang dilarang meminjamkan atau mengunduh pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1). Pasal 6 : Setiap orang dilarang memperdengarkan, mempertontonkan, memanfaatkan, memiliki, atau menyimpan produk pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1), kecuali yang diberi kewenangan oleh peraturan perundang-undangan. Pasal 7 : Setiap orang dilarang mendanai atau memfasilitasi perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Pasal 8 : Setiap orang dilarang dengan sengaja atau atas persetujuan dirinya menjadi objek atau model yang mengandung muatan pornografi. Pasal 9 : Setiap orang dilarang menjadikan orang lain sebagai objek atau model yang mengandung muatan pornografi. Pasal 10 : Setiap orang dilarang mempertontonkan diri atau orang lain dalam pertunjukan atau di muka umum yang menggambarkan ketelanjangan, eksploitasi seksual, persenggamaan, atau yang bermuatan pornografi lainnya. Pasal 11 : Setiap orang dilarang melibatkan anak dalam kegiatan dan/atau sebagai objek sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, Pasal 5, Pasal 6, Pasal 8, Pasal 9, atau, Pasal 12 : Setiap orang dilarang mengajak, membujuk, memanfaatkan, membiarkan, menyalahgunakan kekuasaan atau memaksa anak dalam menggunakan produk atau jasa pornografi”. Adapun ketentuan pidana dari pelanggaran-pelanggaran tersebut di atas diatur dalam pasal 29, Pasal 30, Pasal 31, Pasal 32, Pasal 33, Pasal 34, Pasal 35, Pasal 36, Pasal 37, dan Pasal 38 adalah kejahatan.
d. Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia Nomor 02 Tahun 2007 Tentang Pedoman Perilaku Penyiaran. Dalam Bab VII secara khusus melakukan pelarangan dan pembatasan terhadap program adegan seksual. Seperti terdapat dalam Pasal 9 : 1. “Lembaga penyiaran televisi dilarang menampilkan adegan yang secara jelas didasarkan atas hasrat seksual. 2. Lembaga penyiaran televisi dibatasi menyajikan adegan dalam konteks kasih sayang dalam keluarga dan persahabatan, termasuk di dalamnya: mencium rambut, mencium pipi, mencium kening/dahi, mencium tangan, dan sungkem”. Adapun sangsi dari pelanggaran ini diatur dalam Pasal 25 : “Setiap pelanggaran yang dilakukan oleh Lembaga Penyiaran terhadap Pedoman Program Penyiaran akan dicatat dan direkam oleh KPI dan akan menjadi bahan pertimbangan bagi KPI dalam hal memberikan keputusan-keputusan yang menyangkut Lembaga Penyiaran, termasuk keputusan dalam hal perpanjangan izin siaran”.
e. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi & Transaksi Elektornik (ITE), juga melarang transaksi tentang yang melanggar kesusilaan, yang terdapat di dalam Pasal 27 (1) “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.” Adapun sangsinya adalah Pasal 45 (1) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Dengan berbekal KUHP, Undang-Undang tentang Pers, Undang-Undang tentang Pornografi, Pedoman Perilaku Penyiaran, serta Undang-Undang tentang Informasi dan Transaki Elektronik sebenarnya aparat penegak hukum bisa melakukan langkah-langkah hukum untuk mengerem atau mengendalikan merebaknya pornografi di media massa.
Oleh karena itu pendekatan dakwah melalui hukum yang harus dilakukan adalah : Pertama, mendorong kepada segenap komponen masyarakat untuk mematuhi hukum positif yang mengatur dan melarang merebaknya erotisme atau pornografi. Kedua, mendorong kepada aparat hukum agar peka terhadap nilai-nilai kesopanan atau kesusilaan masyarakat serta norma-norma yang diyakini masyarakat.

3. Pendekatan Religius
Erotisme kabarnya telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam sejarah peradaban manusia. Bahkan dalam sejarah paling dini dalam peradaban manusia, erotisme memiliki hubungan erat dengan perilaku kekerasan. Kisah Kabil dan Habil adalah contoh gamblang betapa erotisme menyebabkan terjadinya perilaku kekerasan. Kisah kekerasan itu dimulai ketika Kabil Habil. Dorongan erotisme yang begitu menggebu-gebu tampaknya telah menguatkan niat Kabil untuk menerapkan cara-cara kekerasan, yaitu membunuh Habil. Sebagaimana kita ketahui ceritera ini berakhir dengan kematian Habil. Kisah Kabil dan habil tampaknya merupakan kisah pertama tentang akibat erotisme terhadap perilaku kekerasan dalam sejarah peradaban manusia.
Selanjutnya di era informasi dan komunikasi massa ini, media massa sedemikian halus dengan tanpa terasa telah membawa para wanita digiring ke dalam suatu ideologi tertentu, yang sesungguhnya bertentangan dengan nilai-nilai agama tentang identitas dan peran mereka. Islam mengajarkan sebagaimana yang tertuang dalam banyak ayat Al-Qur’an. Misalnya dalam QS. al-A’raf : 26 dikatakan ”Hai anak Adam [umat manusia], Sesungguhnya kami Telah menurunkan kepadamu Pakaian untuk menutup auratmu dan Pakaian indah untuk perhiasan. dan Pakaian takwa [selalu bertaqwa kepada Allah] Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat”.
Dalam QS. Al-Hujurot : 13, Allah juga berfirman ”Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. Dari ayat tersebut tersirat bahwa wanita adalah makhluk Allah yang kualitasnya seperti juga pria, bukan terletak pada fisiknya ataupun kemampuannya untuk memuaskan pria, melainkan pada ketaqwaannya.
Dalam ayat yang lain Allah memperintahkan wanita untuk menutup aurat, ”Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (QS. An-Nuur : 31).59.
Demikian juga dalam QS. Al Ahzab Allah berfirman : 59 ”Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Islam memandang wanita sebagai manusia yang harus diperlakukan secara serius. Secara implisit beberapa ayat tersebut mengisaratkan bahwa nilai mereka bukan terletak pada penampilan fisik mereka, melainkan pada kata-kata, gagasan-gagasan dan kebajikan-kebajikan.
Oleh karena itu menyikapi merebaknya erotisme dan pronografi di media massa, menurut Amin Syukur ada beberapa pendekatan religious yang dapat dilakukan diantarnya : pertama, menumbuhkan kesadaran bagi semua pihak bahwa pornografi dan pornoaksi adalah perbuatan yang dilarang dan durhaka (ma’siyat) yang harus dihindari. Kedua, menyadarkan manusia bahwa ia adalah makhluq ciptaan Allah yang paling mulia di muka bumi (Q.S. Al Baqarah : 30), yang berfungsi sebagai pengelola, pemakmur dan wakil Tuhan di muka bumi, yang harus melakukan sesuatu yang baik. Ketiga, menyadarkan manusia bahwa Allah selalu mengintai dan mengawasi segala perilaku dan isi hatinya (Q.S. al Ahzab : 52). Keempat, kepada penonton pornografi yang belum menikah dan telah memenuhi syaratnya, ialah dengan cara menikah; dengan cara ini diharapkan nafsu birahinya akan terkendali. Kelima, kepada penonton pornografi yang belum mampu menikah dan belum memenuhi syaratnya maka hendaklah ia berpuasa. Keenam, kepada penonton pornografi hendaknya mencipatakan banyak kesibukan yang positif, baik dalam kegiatan belajar, social maupun professional.

D. Kesimpulan
Dari tulisan dengan judul “Pendekatan Dakwah Dalam Mengantisipasi Dampak Erotisme dan Pornografi di Media Massa” ini maka dapat disimpulkan :
1. Perkembangan di bidang teknologi informasi dan komunikasi massa, di satu sisi menggembirakan tetapi di sisi lain juga sangat mengkawatirkan bagi keberlangsungan proses dakwah Islamiyah. Menggembirakan, karena dapat memberikan kemudahan-kemudahan bagi manusia, demikian juga dalam bidang dakwah; dakwah dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Namun demikian juga mengkawatirkan bahkan menyedihkan, karena semua itu juga dapat berdampak negatif bagi kehidupan manusia. Pengaruh tersebut akan tampak nyata pada perubahan tingkah laku dan nilai-nilai norma budaya manusia.
2. Fenomena yang akhir-akhir ini meresahkan masyarakat, terutama jika dilihat dari perspektif religious adalah bergesernya nilai-nilai moralitas, yakni merebaknya ekspose atau tayangan erotisme dan pornografi di media massa. Ekspose atau tayangan ini merupakan bagian dari proses komunikasi yang tidak dapat dilepaskan dari problematika dakwah. Perkembangan yang terjadi dalam bidang komunikasi massa juga akan berdampak pada perkembangan dakwah. Makanya dakwah tidaklah cukup hanya dilakukan dengan strategi dan metode konvensional, tetapi sudah selayaknya mengikuti perkembangan teknologi komunikasi.
3. Adanya tantangan dakwah tersebut, membutuhkan pemikiran tentang pendekatan dakwah. Ada beberapa pendekatan dakwah yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi merebaknya erotisme dan pornografi di media massa, diantaranya adalah pendekatan bisnis media, Hukum dan religious.

DAFTAR PUSTAKA

Amin Syukur, “Kita Religius Dalam Menyikapi Pornografi dan Pornoaksi di Media Massa”, disampaikan dalam Seminar “Menyikapi Pornografi dan Pornoaksi di Media Massa (Perpektif Bisnis Media, Hukum, Seni Budaya dan Religius”, oleh Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah IAIN Walisongo, Rabu, 22 Oktober 2003.
Burhan Bungin, Erotika Media Massa, (Surakarta : UMS Press, 2001).
Burhan Bungin, Pornomedia :Konstruksi Sosial Teknologi Telematika & Perayaan Seks di Media Massa, (Bogor : Kencana, 2003).
Evendy Ghozali (Pakar Komunikasi Politik) dalam Talkshow “Pornografi di Media Massa”, Radio Elshinta FM, 22 Juni 2010.
Hadi Supeno (Ketua KPAI) dalam Talkshow “Pornografi di Media Massa”, Radio Elshinta FM, 22 Juni 2010.
Ishadi SK., Dunia Penyiaran Prospek dn Tantangannya , (Jakarta : Pr. Gramedia Pustaka Utama, 1999).
John Naisbitt dan Patricia Aburdence, Megatrends 2000, dalam Warta Ekonomi 01/1990.
M. Alfandi, “Erotisme dalam Perspektif Islam”, dalam Harian Meteor, 15 Agustus 2008.
Mahfud Ali, “ Tayangan Pornoaksi di Media Massa dari Perspektif Hukum”, disampaikan dalam Seminar “Menyikapi Pornografi dan Pornoaksi di Media Massa (Perpektif Bisnis Media, Hukum, Seni Budaya dan Religius”, oleh Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah IAIN Walisongo, Rabu, 22 Oktober 2003.
Nurbini, “Dakwah dan Tantangan Masa Depan (Upaya Mempersiapkan Generasi Muda Islami Menghadapi Millenium Baru), dalam Risalah Walisongo, Edisi 80/ Th.XX/Januari-Juni 2000.
Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia, Nomor 02 Tahun 2007 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran.
Sumartono, Terperengkap Dalam Iklan : Meneropong Imbas Pesan Iklan Televisi, (Bandung : Alfabeta, 2002).
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.
W.J.S. Poerwodarminto, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1992).
Wawan Kuswandi, Komunikasi Massa : Sebuah Analisa Media Televisi, ((Jakarta : Rineka Cipta, 1996).
www.mail-archive.com/...com/.../Erotisme_dan_Pornografi.doc -
Ziauddin Sardar, Tantangan Dunia Islam Abad 21, (Bandung : Mizan, 1989), hlm. 89.

No comments:

Post a Comment