Tuesday, May 11, 2010

PERKEMBANGAN DAKWAH ISLAM MELALUI MEDIA TELEVISI DI INDONESIA

PERKEMBANGAN DAKWAH ISLAM
MELALUI MEDIA TELEVISI DI INDONESIA
(Telaah Terhadap Metode dan Teknik Dakwahnya)

M. Alfandi
(Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang)

Abstract
Television as a part of a new audio-visual culture in Indonesia is a medium which has the strongest influence on the formation of new attitudes and personalities of societies. A new culture television also grows in societies. Moreover, in fact the essential problem of this new culture has been basically known by Indonesian people before the existence of a writing and printing culture. The essential element of a television culture is in the form of the use of verbal and visual language, which had been used by Walisongo in the past as a medium of delivering messages, Islamic information, and teachings, and also entertainment. Among the old verbal and visual language are wayang kulit which was used as an Islamic da’wah medium; songs and tales which were used to teach Islamic teachings. With the emergence of technological products which has the same essence by using verbal and visual language, the new culture it bring along is easily absorbed into societies in Indonesia. It is this potential which makes Islamic da’wah utilizes this medium in order to achieve its goal, by making innovation in creating appropriate da’wah methods and techniques. Those innovations have been made by the actors of da’wah in accordance with the development of Indonesian television industry, started from TVRI period (1960s - late 1980s) to private television period (late 1980s - now).

Kata Kunci : Dakwah, Media, Televisi, Metode dan Teknik

A. PENDAHULUAN
Dakwah Islam merupakan usaha manusia beriman untuk mempengaruhi dan mengajak manusia agar mengikuti (menjalankan) ajaran Islam dalam semua segi kehidupan. Menurut Amrullah Ahmad, untuk mencapai tujuan tersebut iman manusia perlu diaktualisasikan dan dimanifestasikan dalam suatu sistem kegiatan yang dilaksanakan secara teratur pada dataran kenyataan individual dan sosio-kultural dengan menggunakan cara-cara tertentu. Agar mencapai tujuan yang efektif dan efisien, didalam pelaksanaan proses dakwah Islam diperlukan komponen-komponen (unsur) dakwah yang harus terorganisir secara baik dan tepat. Salah satu komponen (unsur) dakwah yang harus terorganisir secara baik dan tepat adalah media dakwah.
Menurut Asmuni Syukir media dakwah adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan dakwah. Dan Aminuddin Sanwar mendefinisikan media dakwah sebagai alat yang dipakai sebagai perantara untuk melaksanakan kegiatan dakwah. Sementara itu menurut Syukriadi Sambas media dakwah dapat diibaratkan sebagai sebuah mobil yang dipergunakan sebagai alat transportasi untuk membawa penumpang agar sampai di tujuan; sementara pengemudi dan mesin mobil itu sendiri adalah metode dakwahnya. Media dakwah ini dapat berupa barang (material), orang, tempat, kondisi tertentu dan sebagainya. Dalam arti sempit, media dakwah dapat diartikan sebagai alat bantu dakwah. Sebagai alat bantu, media dakwah memiliki peranan atau kedudukan sebagai penunjang tercapainya tujuan dakwah. Artinya, sebenarnya proses dakwah tanpa adanya media dakwah masih dapat mencapai tujuannya. Namun sebagai sebuah sistem dakwah, media bukan hanya berperan sebagai alat bantu, tetapi sebagai salah satu komponen dakwah yang memiliki peranan dan kedudukan yang sama dengan komponen-komponen yang lain, seperti subyek dakwah, obyek dakwah, materi dakwah dan metode dakwah. Apalagi dalam penentuan strategi dakwah yang memiliki azas efektifitas dan efisiensi, peranan media dakwah menjadi tampak jelas pentingnya.
Sejalan dengan perkembangan akselerasi dari teknologi komunikasi dan informasi sebagai bagian dari perkembangan kehidupan manusia, penggunaan media dakwah juga mengalami perkembangan. Perkembangan teknologi tersebut menuntut semua pihak untuk senantiasa kreatif, inovatif dan bijak dalam memanfaatkan teknologi dimaksud guna kemaslahatan umat manusia. Media dakwah yang pada awalnya lebih banyak menggunakan media tradisional, berkembang menjadi lebih banyak variasinya dengan menggunakan sentuhan-sentuhan teknologi media massa modern; baik dengan media cetak yang variatif (buku, koran, majalah, tabloit, dan lain-lain) maupun dengan media elektronik yang variatif pula (radio, televisi, film, VCD, internet dan lain sebagainya). Dari sekian banyak variasi hasil teknologi infomasi dan komunikasi yang dapat dipergunakan sebagai media dakwah, baik cetak maupun elektronik yang telah tersebut, penulis untuk selanjutnya hanya akan lebih memfokuskan pada bahasan salah satu media elektronik yang menurut penulis masih “merajai” media lainnya sampai saat ini, yaitu media televisi; yang dapat pula dipergunakan sebagai media dakwah.

B. TELEVISI SEBAGAI MEDIA DAKWAH ISLAM
1. Sejarah Singkat Lahirnya Televisi
Bertitik tolak dari penemuan Dane pada tahun 1802 bahwa pesan dapat dikirim melalui kawat beraliran listrik dalam jarak dekat, maka perkembangan demi perkembangan terjadi; sehingga diciptakanlah telagrap, telepon dan kemudian juga ditemukannya gelombang elektromagnetik sehingga lahirlah pula radio komunikasi, radio siaran dan televisi. Paul Nipkow (yang dijuluki Bapak Televisi) pada tahun 1884 telah menemukan sebuah alat yang bernama Jantra Nipkow atau Nipkow Disk atau Nipkowsheibe yang melahirkan “televisi mekanis” yang waktu itu bernama Electrische Teleskop.
Kerjasama para ahli Eropa dan Amerika serikat dalam hal penelitian dasar pertelevisian , pada tahun 1923 mengubah “televisi mekanis” menjadi “televisi elektronis” atau Ikononkop seperti yang kita kenal seperti sekarang ini. Televisi set elektonik ini baru diproduksi untuk umum pada tahun 1939, yang dipelopori oleh Allen B. Du Month dengan modal pertama 500 dollar Amerika.

2. Berbagai Julukan Terhadap Media Televisi
Televisi elektronik yang muncul pertama kalinya untuk umum pada akhir 1930-an di Amerika, merupakan media massa yang pesat perkembangannya dan memiliki berbagai kelebihan dibandingkan dengan media lain. Karena kelebihan yang dimiliki media inilah kemudian memunculkan berbagai julukan untuknya, seperti Si Kotak Ajaib, Jendela Dunia, The Second Hand Reality dan the second god bahkan mungkin untuk sekarang the first god. Diberi julukan Si Kotak Ajaib, karena media ini pada awal perkembangannya dapat membuat masyarakat Amerika waktu itu terpesona akibat efek audio-visual yang dipancarkannya. Diberi julukan Jendela Dunia dan The Second Hand Reality karena melalui media ini masyarakat dapat mengetahui berbagai kejadian dan kenyataan yang terjadi di dunia ini melalui jendela media televisi, tidak harus pergi ke tempat kejadian, secara visual kejadian itu sudah dapat dilihat. Dan di Amerika dulu televisi juga diberi julukan the second god, karena anak-anak di Amerika waktu itu belajar tentang cara hidup, berpakaian dan berjalan melalui media televisi. Bahkan mungkin sekarang -menurut Kang Jalal, panggilan akrab Jalaluddin Rakhmat- sudah menjadi the first god, karena hampir semua kegiatan kehidupan mereka dijadwal dan diatur oleh pesan-pesan televisi.
Dengan kekuatannya yang begitu hebat, televisi dapat memberikan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan para pemirsanya, baik yang sifatnya positif ataupun negatif. Salah satu sisi positifnya, televisi dapat memberikan hiburan, rasa senang dan kesegaran. Namun hiburan itu juga dapat berdampak negatif, tidak memberikan rasa senang dan kebahagiaan, seperti perilaku menyimpang, pengikisan nilai-nilai dan kecanduan terhadap acara-acara tertentu yang dapat mengganggu aktifitas lain yang lebih penting. Karena dampak negatif yang diberikan televisi, maka media ini juga mendapatkan julukan Si Tabung Tolol, Candu Elektronik, Monster Mata Satu dan sebagainya.

3. Kelebihan dan Kekurangan Televisi sebagai Media Dakwah
Para aktifis dakwah Islam dengan melihat berbagai kelebihan media televisi merasa tergugah untuk mempergunakan media audio-visual ini sebagai sarana atau alat untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah. Televisi sebagai media dakwah merupakan suatu penerapan dan pemanfaatan teknologi modern dalam aktifitas dakwah. Dengan pemanfaatan televisi ini, diharapkan seluruh pesan-pesan dakwah dapat mencapai sasaran (tujuan) secara lebih optimal, baik kuantitatif maupun kualitatif. Dakwah melalui televisi ini banyak memperoleh keuntungan dibanding dengan mempergunakan media-media dakwah lainnya, diantaranya :
a. Dakwah melalui media televisi dapat disampaikan kepada masyarakat melalui suara (audio) dan gambar (visual) yang dapat di dengar dan dilihat oleh pemirsa.
b. Dari segi kalayak (Mad’u), televisi dapat menjangkau jutaan pemirsa di seluruh penjuru tanah air bahkan luar negeri, sehingga dakwah lebih efektif dan efisien.
c. Efek kultural televisi lebih besar dibandingkan media lain, khususnya bagi pembentukan perilaku prososial dan anti sosial anak-anak.
Menurut identifikasi Asmuni Syukir, meskipun kelebihan-kelebihan televisi itu sangat menonjol, bukan berarti televisi paling baik untuk dijadikan sebagai media dakwah. Sebab seperti media-media yang lain, televisi juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya :
a. Siaran televisi hanya dapat sekali di dengar dan dilihat (tidak dapat diulang) kecuali dari pusat pemancarnya (studio televisi).
b. Terikat oleh pusat pemancarnya dan waktu siaran. Artinya siaran televisi tidak setiap saat dapat dilihat dan didengar menurut kehendak obyek dakwah.
c. Terlalu peka akan gangguan sekitar, baik bersifat alami maupun teknis.
d. Sukar dijangkau oleh masyarakat, karena televisi relatif mahal harganya dibandingkan radio. Akan tetapi kelemahan ini nampaknya dapat ditunjang adanya kebiasaan masyarakat menonton televisi, walaupun mereka tidak memiliki.
e. Kadang-kadang masyarakat dalam menonton hanya sebagai pelepas lelah (hiburan), sehingga di lain hiburan mereka tidak senang.
Selain yang disebutkan oleh Asmuni Syukir tersebut, menurut penulis juga masih ada kelamahan-kelemahan yang lain, yaitu biaya produksi untuk acara-acara di televisi relatif lebih mahal dibandingkan dengan menggunakan media lainnya, sementara ketertarikan pemasang iklan untuk program-program dakwah juga masih minim; selain itu juga penyampaian dakwah melalui media televisi memerlukan keahlian khusus yang tidak semua da’i/ mubaligh dapat melakukan dakwah melalui media ini.

C. PERKEMBANGAN METODE DAN TEKNIK DAKWAH MELALUI MEDIA TELEVISI DI INDONESIA
Keberhasilan dakwah melalui media televisi tidak hanya tergantung kepada kelebihan-kelebihan yang dimiliki media ini, akan tetapi sangat tergantung pula pada orang yang mempergunakan media ini; yang hal ini sejalan dengan istilah The Man Behind The Gun. Sehingga bagaimanapun canggihnya sebuah karya teknologi -termasuk televisi-, akan tetapi apabila orang yang ingin memanfaatkan peralatan itu ternyata tidak mampu mengoperasionalkannya, maka peralatan itu tidak akan ada gunanya. Demikian juga bagi seorang da’i yang ingin memanfaatkan media televisi untuk berdakwah, ia dituntut untuk memahami betul bagaimana penggunaan media ini, termasuk di dalamnya penentuan metode dan teknik dakwahnya. Karena tanpa adanya metode dan teknik dakwah yang tepat dalam mempergunakan media televisi, justru hanya akan membuang tenaga dan biaya, serta juga akan menambah jauhnya kegiatan dakwah dengan masyarakat.
Dari hasil pengamatan penulis, baik melalui literatur yang sudah ada serta pengamatan langsung terhadap perkembangan dakwah melalui media televisi di Indonesia, dengan pendekatan sedikit pengetahuan penulis mengenai dasar-dasar produksi program televisi dan metodologi dakwah, kelihatannya ada perkembangan di dalam penggunaan metode dan teknik dakwahnya (secara khususnya tekniknya); yang hal itu juga dipengaruhi oleh perkembangan industri pertelevisian di Indonesia itu sendiri. Untuk lebih mempermudah identifikasi dan klasifikasi metode dan teknik dakwah yang dipergunakan, penulis akan mengklasifikasikan menjadi dua periode perkembangan, yaitu periode/ era TVRI (Televisi Republik Indonesia) dan periode/ era televisi swasta.

1. Periode TVRI (1960 s.d akhir 1980-an)
a. Sejarah Singkat TVRI
TVRI melaksanakan siaran perdananya pada tahun 1962. Pada saat itu TVRI lahir untuk mendukung Asean Games IV di Jakarta. Sebagai lembaga penyiaran, kehadirannya tidak dipersiapkan secara wajar, misalnya, tidak berdasarkan pada penelitian lapangan mengenai faktor pendukung maupun kendala yang akan dihadapi. Bahkan agar masyarakat dapat menonton dari rumah, pemerintah membagi-bagikan pesawat televisi kepada khalayak terbatas. Selama 2 (dua) pekan dilaksanakannya Asean Games TVRI mempunyai liputan olahraga yang akan disiarkan. Namun setelah itu, antara tanggal 12 s/d 18 september 1962, siaran terpaksa diistirahatkan. Ketika diudarakan lagi dalam jangka cukup lama, siaran hanya dapat dilaksanakan 30 menit sehari.
Pada tahun 20 Oktober 1963, lebih setahun setelah siaran pertama-kehadiran TVRI diatur melalui Keppres No. 215 Tahun 1963, yang antara lain menetapkan statusnya sebagai suatu yayasan, yaitu Yayasan Televisi Republik Indonesia yang disingkat TVRI. Mengenai tujuan didirikannya TVRI, dalam pasal 4 (empat) dikatakan bahwa TVRI menjadi alat hubungan masyarakat dalam melaksanakan pembangunan mental/spiritual, fisik bangsa dan negara, khususnya pembentukan Manusia Sosialis Indonesia.
Masalah keuangan TVRI, diatur dalam pasal 8 (delapan), bahwa keuangan TVRI diperoleh melalui, a). subsidi pemerintah; b). iuran wajib dari pemilik pesawat; dan c). hasil-hasil pendapatan yang diperoleh dari kegitan yang dilakukan TVRI, termasuk dari periklanan. Namun mulai 1 April 1981, pendapatan yang diperoleh dari periklanan itu dilarang, dengan alasan menyebarkan konsumerisme. Selain itu juga, mengenai pungutan iuran dari masyarakat, akhir-akhir ini banyak menimbulkan reaksi. Meski sudah diperbaharui dengan Keppres No. 40 Tahun 1990, namun dasar hukumnya dianggap tidak kuat. Sehingga membayar iuran televisi juga dianggap sukarela. Sementara itu subsidi yang menurut Keppres No. 215 Tahun 1963 disediakan oleh pemerintah, pada tahun-tahun terakhir ini juga tidak bisa diharapkan lagi. Namun melalui Kepmen No. 111 tahun 1990, pasal 21, bahwa televisi swasta diwajibkan untuk memberikan kontribusi pendanaan, sepanjang TVRI masih tetap belum boleh menyiarkan iklan. Akan tetapi nampaknya ini juga ada kendala keberatan dari pihak-pihak televisi swasta Sehingga TVRI-pun sekarang ini juga mencari dana dari sponsor melalui beberapa iklan yang disiarkan, walaupun belum sebanyak televisi swasta. Karena kalau tidak demikian tentunya akan mengkhawatirkan kelangsungan kehidupan TVRI, apalagi sekarang telah muncul beberapa televisi swasta yang memiliki pendanaan lebih kuat.

b. Metode dan Teknik Dakwah Melalui TVRI
Sebagaimana yang tertuang dalam Keppres No. 215 Tahun 1963, pasal 4 (empat), tujuan didirikannya TVRI adalah sebagai alat hubungan masyarakat dalam melaksanakan pembangunan mental/spiritual, fisik bangsa dan negara, dan pembentukan Manusia Sosialis Indonesia. Maka khususnya untuk melaksanakan tujuan sebagai alat pembangunan mental/ spiritual ini, TVRI minimal 1 (satu) kali dalam satu minggu menyiarkan acara Mimbar Agama (terdiri dari semua agama yang ada di Indonesia), termasuk di dalamnya Mimbar Agama Islam (Program Dakwah Islam). Namun beberapa paket keagamaan yang disajikan TVRI tersebut, selalu menampilkan tayangan yang monoton, sehingga tidak mempunyai daya tarik sebagai tontonan rohani dari para pemirsanya.
Di dalam pelaksanakan program dakwah Islam melalui media TVRI ada beberapa metode dan teknik dakwah yang dipergunakan, yaitu :
1). Metode Ceramah (Talking Method)
Metode ceramah adalah suatu cara penyajian materi dakwah oleh da’i kepada mad’u dengan menggunakan lisan, atau banyak diwarnai oleh ciri/ karakteristik bicara oleh seorang da’i/mubaligh. Metode ceramah adalah sebagai salah satu metode berdakwah yang paling sering dipergunakan oleh para da’i termasuk juga oleh para utusan Allah di dalam menyampaikan risalah-Nya. Metode tertua yang lazim digunakan dalam berbagai macam situasi inilah yang paling sering juga dipergunakan untuk dakwah melalui media televisi pada era TVRI bahkan sampai era sekarang, seperti dalam acara Mimbar Agama Islam. Program-program mimbar seperti ini di dalam televisi biasanya termasuk dalam program talk show atau the talk show program.
Ada berbagai teknik berdakwah di era TVRI yang dengan mempergunakan metode ceramah ini, yaitu :
a). Teknik Uraian (The Talk)
Dakwah dengan teknik uraian adalah teknik penyampaian materi dakwah oleh seorang da’i/mubaligh dengan ceramah (memberikan uraian) melalui media televisi dalam durasi tertentu secara sendirian (monolog), tanpa ilustrasi gambar lain yang berganti-ganti. Teknik ini sebenarnya, sebagaimana teknik ceramah di panggung, cuma bedanya ini di dalam studio, di-shoot dan direkam, kemudian disiarkan kepada pemirsa.
b). Teknik Wawancara (Interview)
Dakwah dengan teknik wawancara adalah teknik penyampaian materi dakwah dengan lisan/ceramah melalui media televisi, yang dilakukan oleh dua orang (dialog), yang satu bertindak sebagai pewancara (interviewer) dan yang satu bertindak sebagai nara sumber, yang membahas mengenai materi dakwah tertentu.

2). Metode Sisipan/Selipan (Infiltration Method)
Metode susupan/ selipan (infiltrasi) adalah penyampaian materi dakwah dengan cara disusupkan/diselipkan pada acara-acara televisi (umum) yang lain, yang tanpa terasa bahwa pesan dakwah (jiwa agama Islam) masuk dalam program tersebut. Metode dakwah dengan susupan/selipan pada era TVRI masih sedikit sekali kuantitasnya dan dari segi kualitas juga belum baik. Metode infiltrasi ini biasanya dimasukkan dalam acara/program seni dan budaya. Program seni budaya di televisi yang sering disusupi dakwah diantaranya seni pertunjukan, yaitu seni musik, seni tradisional (wayang, ketoprak, ludruk, lenong dan lain-lain) dan sedikit dalam seni drama dan film.

2. Periode Televisi Swasta (akhir 1980-an s/d sekarang)
a. Sejarah Singkat Perkembangan Televisi Swasta di Indonesia
Sejak tahun 1975 sebenarnya sudah timbul gagasan untuk menghadirkan stasiun televisi swasta, namun hingga tahun 1987 gagasan itu masih bisa diredam. Salah satu kendala untuk menghadirkan televisi swasta adalah belum adanya undang-undang kepenyiaran. Karena menurut Keppres No. 215 Tahun 1963, pasal 3 disebutkan bahwa TVRI adalah satu-satunya badan yang berwenang membangun/mendirikan stasiun-stasiun televisi di Indonesia. Berdasar Keppres No. 215 Tahun 1963 itu kemudian muncul Kepmen No. 111 Tahun 1990, yang menyebutkan bahwa dalam batas-batas tertentu TVRI dapat menunjuk pihak lain (swasta atau masyarakat) menjadi pelaksana siaran televisi melalui hubungan kerja yang diatur dengan perjanjian tertulis; sebagai misal perjanjian pemasukan kontribusi dana untuk TVRI. Setelah keluar Kepmen No. 111 tahun 1990, sebagaimana tersebut, kemudian bermunculan beberapa stasiun televisi swasta, yaitu tahun 1987-1988, RCTI diijinkan siaran dengan menggunakan decoder, diikuti SCTV tahun 1989, TPI tahun 1991, AN-teve tahun 1993 dan tahun 1994 mengudara juga Indosiar. Kemudian di tahun 2000 dan tahun 2001 ini muncul juga Trans TV yang mengudara secara nasional serta Metro TV, La Tivi dan TV 7 yang masih mengudara secara lokal di daerah Jabotabek.

b. Metode dan Teknik Dakwah di Periode Televisi Swasta
Dengan munculnya beberapa stasiun televisi swasta, selain memberikan angin segar bagi dunia dakwah (karena bertambahnya media dakwah), hal ini juga merupakan tantangan tersendiri bagi aktifis dakwah dalam mempergunakan media ini untuk kegiatannya. Karena orientasi dan tujuan didirikannya televisi swasta jelas berbeda dengan didirikannya TVRI. Beberapa televisi swasta didirikan lebih banyak berorientasi bisnis, sehingga waktu siaran yang tersedia sangat berharga sekali jika dihitung dengan nilai uang. Makanya hal ini menuntut kreatifitas para praktisi televisi swasta yang masih mempunyai komitmen dalam dakwah Islamiyah, untuk membuat program-program dakwah yang lebih bervariasi baik metode maupun tekniknya. Karena tanpa adanya metode dan teknik dakwah yang bervariasi, justru akan mengakibatkan program dakwah tersebut ditinggalkan oleh pemirsa; yang akhirnya juga berimbas pada pemasukan iklan pada acara-acara dakwah.
Sementara itu dari pengamatan penulis mengenai metode dan teknik dakwah yang digunakan di era televisi swasta ada beberapa perkembangan dibandingkan dengan metode dan teknik dakwah yang dipergunakan pada era /periode TVRI. Sebenarnya secara garis besar metodenya masih sama dengan di era TVRI, akan tetapi dari segi teknisnya banyak perkembangan sejalan dengan perkembangan industri pertelevisian di Indonesia. Adapun beberapa metode dan teknik dakwah yang dipergunakan tersebut adalah seperti :
1). Metode Ceramah (Talking Method)
Metode dakwah dengan ceramah melalui televisi di era televisi swasta pada dasarnya sama dengan yang pernah dilakukan di era TVRI dan bukan berarti teknik dahulu itu tidak dipakai untuk masa era televisi swasta (sekarang), akan tetapi hanya secara teknis ada beberapa perkembangan yang dilakukan dalam proses dakwah dengan metode ceramah, diantaranya :
a). Teknik Uraian (The Talk)
Pada era TVRI -termasuk masih sampai sekarang- biasanya dalam proses produksi program dakwah dengan teknik uraian ini, seorang da’i secara sendirian diambil gambarnya/direkam (off air), baik in studio atau out studio tanpa melibatkan obyek dakwahnya (mad’u). Akan tetapi untuk era televisi swasta, dimana peralatan yang dipergunakan juga semakin canggih serta dukungan sponsor yang banyak, teknik dakwah dengan uraian ini dapat dilaksanakan secara langsung (live/on air) dengan bantuan satelit dan melibatkan mad’unya. Sebagai contoh teknik ini adalah pengajian Kiai sejuta umat Zainudin MZ, yang disiarkan oleh Indosiar secara langsung (Live) dari berbagai kota di Indonesia. Selain itu juga pengajian KH. Abdullah Gymnastiar yang disiarkan secara langsung oleh SCTV dari beberapa tempat, yang melibatkan langsung mad’unya.
b). Teknik wawancara (interview)
Pengembangan teknik dakwah dengan wawancara pada era TV swasta adalah jika teknik wawancara pada era TVRI hanya melibatkan 2 (dua) orang yaitu pewancara dan nara sumber, akan tetapi pada era TV swasta sekarang sudah banyak yang melibatkan pemirsa secara langsung dalam program/acara dakwah melalui telepon (interactiv) sebagai media tambahan sehingga acara bisa disiarkan secara langsung (live). Hal ini juga tidak lepas dari perkembangan masyarakat, yang dari waktu ke waktu volume kepemilikan pesawat telepon bertambah. Sehingga untuk pembuatan program dakwah dengan mempergunakan teknik ini diperlukan kesiapan materi dari para nara sumber untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan secara langsung dari para pemirsa.
Sebagai pendukung untuk pembuatan program dakwah dengan teknik ini diantaranya para pemasang sponsor yang sudah mulai tertarik dengan paket acara dakwah. Sehingga teknik dakwah ini juga diramu dengan acara kuis untuk pemirsa, yang materinya dari pengetahuan agama Islam, dan bagi yang dapat menjawabnya akan beruntung memperoleh hadiah dari para sponsor. Selingan kuis semacam ini juga merupakan daya tarik tersendiri bagi pemirsa untuk mengikuti acara dakwah di televisi. Seperti halnya acara Nyem-Nyem Saur-Saur, dipandu oleh Eko Patrio dan Ulfah Dwiyanti. Daya tarik lainnya adalah pada program dakwah ini dipandu oleh para artis yang oleh masyarakat luas sudah mereka kenal dengan baik; atau bahkan si narasumber yang diwawancarai itu adalah seorang artis yang dimintai pengalaman keagamaannya, seperti acara Qipas yang dipandu oleh artis Inneke Kusherawati dan acara-acara lainnya yang sejenis.
c). Teknik Diskusi
Teknik dakwah dengan metode ceramah yang masih jarang terlihat pada masa/ era TVRI adalah metode diskusi. Metode dakwah dengan diskusi melalui televisi sering dimaksudkan sebagai pertukaran pikiran (gagasan, pendapat, ide dan sebagainya) antara sejumlah orang yang ditengahi oleh seorang moderator yang menyampaikan materi diskusinya secara lisan yang ditayangkan melalui media televisi untuk membahas suatu permasalahan tertentu yang dilaksanakan secara teratur dan bertujuan untuk memperoleh kebenaran. Dakwah dengan menggunakan metode diskusi di televisi adalah salah satu metode dakwah yang pemecahan masalahnya diserahkan kepada panelis dan juga sesekali melibatkan pemirsa televisi penerima dakwah agar ikut memberikan sumbangan pikiran terhadap masalah yang dibahas bersama melalui telepon. Tema-tema yang biasa diangkat dalam metode diskusi ini antara lain tentang peningkatan kesejahteraan masyarakat muslim, pemberdayaan ekonomi umat, peningkatan kesadaran zakat dan lain sebagainya.
d). Teknik suara masyarakat (Vox-Pop)
Teknik dakwah dengan vox-pop ini ketika era TVRI juga masih jarang dibuat, karena pembuatan progran dengan teknik ini membutuhkan biaya dan waktu yang cukup, harus shooting dan wawancara di lapangan yang melibatkan banyak orang dan kemudian juga membutuhkan proses editing. Akan tetapi untuk era televisi swasta yang mempunyai pendanaan cukup dari sponsor, pembuatan program dakwah dengan teknik ini tentunya dapat dilakukan.
Teknik Vox-Pop kependekan dari vox-populi -dalam istilah Indonesia biasa disebut suara masyarakat. Artinya dakwah dengan teknik ini merupakan program dakwah yang lebih banyak mengetengahkan pendapat masyarakat tentang suatu masalah, dengan tujuan agar pemirsa juga dapat mengetahui bermacam-macam pendapat dari berbagai orang atau grup sehingga dapat dikonfrontir dengan pendapatnya sendiri.
2). Metode Berita (News Method)
Dalam pengertian sederhana program berita (news) sebagai metode dakwah adalah suatu sajian laporan berupa fakta dan kejadian yang berhubungan dengan dunia ke-Islaman yang mempunyai nilai unusual, factual, esensial dan disiarkan melalui televisi secara periodik. Sedangkan waktu penyajian berita tersebut secara garis besar dapat dibagi menjadi 2 (dua), yang secara teknis pembuatannya juga berbeda-beda, yaitu :
a). Berita harian
Berita harian adalah berita yang perlu segera disampaikan kepada masyarakat, yang masih terikat waktu, aktual, dan singkat; yang hal ini bisa berupa the hot news, spot news atau news break. Berita-berita yang berhubungan dengan dunia ke-Islaman ini dapat dilihat setiap hari pada momen Ramadhan, Hari Besar Islam (Idul Fitri dan Idul Adha), serta pada musim haji.
b). Berita berkala :
Berita tentang dunia ke-Islaman yang disiarkan secara berkala ini bersifat time less (tidak terikat waktu), mempunyai kemungkinan penyajiannya yang lebih lengkap dan mendalam. Sajiannya juga dapat diolah secara lebih artistik. Oleh karena itu, model pemberitaan berkala ini biasanya merupakan karya jurnalistik yang artistik, dengan menggunakan teknik dokumenter, feature dan magazine. Ketiga teknik ini memiliki kemasan dan tata laksana produksi yang spesifik, membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit.
Beberapa contoh berita berkala yang menggunakan ketiga teknik tersebut adalah liputan perjalanan ke tempat-tempat yang bernilai sejarah dan kejayaan Islam seperti di Spanyol, Maroko, Mesir, Yordania, Israel, Saudi Arabia dan informasi mengenai sejarah dan perkembangan Islam domestik, seperti masjid-masjid tua di Indonesia, mengenai peninggalan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia dan termasuk juga prosesi haji (dari pemberangkatan, pelaksanaan dan kepulangan di tanah air) yang di tayangkan oleh beberapa televisi swasta.
3). Metode Infiltrasi (Infiltration Method)
Metode dakwah dengan infiltrasi di era televisi swasta ini lebih variatif, dikarenakan ragam acara lebih banyak dibandingkan ketika era TVRI. Masing-masing stasiun televisi dituntut untuk lebih kreatif membuat program-program unggulan dan berkualitas agar tidak ditinggalkan oleh pemirsanya. Namun yang patut disayangkan bahwa program yang dibuat oleh masing-masing stasiun televisi itu lebih banyak untuk kebutuhan hiburan bagi pemirsanya, dan mempertimbangkan faktor komersialnya (ada nilai untung atau tidak). Dengan melihat gejala yang semacam ini maka bagi praktisi televisi yang masih mempunyai komitmen terhadap misi dakwah Islamnya harus lebih kreatif lagi dalam menyusupkan nilai-nilai ke-Islaman ini dalam program-program hiburan tersebut.
Oleh karena itu pada era televisi swasta sekarang, selain sebagaimana pada era TVRI, banyak program-program baru yang dapat disusupi materi dakwah. Pada program seni budaya, selain seni pertunjukan seperti musik dan kesenian tradisonal yang kembali populer sekarang, juga sudah ada beberapa televisi yang meliput seni pameran ke-Islaman, seperti Festifal Istiqlal, yang disitu di pamerkan benda-benda ke-Islaman. Kemudian program baru lain yang ketika era TVRI belum ada adalah program sinetron. Sinetron kepanjangan dari sinema elektronika semacam film dan drama televisi, yang secara teknis pembuatan dan penayangannya berbeda. Sinetron-sinetron dengan tema ke-Islaman ini sementara hanya masih sering di tayangkan pada bulan ramadhan (Seperti Do’a membawa berkah), sedangkan pada waktu-waktu di luar ramadhan masih kurang.

D. PENUTUP
Demikian tulisan yang berjudul “Perkembangan Dakwah Islam Melalui Media Televisi Di Indonesia (Telaah Metode dan Teknik Dakwahnya)”. Dari hasil pengamatan penulis melalui literatur dan pengamatan langsung terhadap dakwah Islam melalui media televisi di Indonesia (dari priode/ era TVRI sampai periode/ era TV swasta), kelihatannya ada perkembangan yang signifikan di dalam penggunaan metode maupun teknik dakwah yang dipergunakannya.
Perkembangan dakwah melalui media televisi ini merupakan wujud dinamisasi dari proses dakwah yang terjadi di Indonesia sampai sekarang ini. Namun yang menjadi catatan penulis bahwa dakwah melalui media televisi di Indonesia ini kelihatannya masih sangat jauh dari perimbangan dengan acara-acara televisi yang sifatnya menghibur (yang kadang justru berpengaruh negatif terhadap pemirsanya). Oleh karena itu ke depan, mudah-mudahan ada kepedulian dari semua pihak (baik fikiran dan biaya) untuk pembangunan mental/ spiritual bangsa ini melalui pembuatan program-progran dakwah melalui media televisi yang menarik untuk ditonton masyarakat dan mengena pesan-pesan dakwah yang dibawanya. Amiiin.

____________



DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Dzikron,1993.Filsafat Dakwah, Semarang: Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang.
---------------------, 1992.Metodologi Dakwah (Diktat), Semarang: Fakultas Dakwah.
Ahmad, Amrullah (Ed.), 1983.Dakwah Islam dan Perubahan Sosial, Yogyakarta : Prima Duta.
Chen, Milthon, 1996.The Smart Paren’t Guide to KID’S Televisi, (Terj.), Jakarta : PT. Gramedia.
Fahmi A.,Alatas, 1997.Bersama Televisi Merenda Wajah Bangsa, Jakarta : Yayasan Pengkajian Komunikasi Masa Depan.
Kuswandi, Wawan, 1996.Komunikasi Massa : Sebuah Analisis Isi Media Televisi, Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Muhtadi, Asep S. dan Sri Handajani (Eds.), 2000.Dakwah Kontemporer : Pola Alternatif Dakwah Melalui Televisi, Bandung : Pusdai Press.
Mulyana, Dedy dan Idy Subandi Ibrahim (Ed.), 1997.Bercinta dengan Televisi : Ilusi, Impresi dan Imaji Sebuah Kotak Ajaib, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
-----------------, 1999,Nuansa-Nuansa Komunikasi : Meneropong Politik dan Budaya Komunikasi Masyarakat Kontemporer, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Rakhmat, Jalaluddin, 1998.Catatan Kang Jalal : Visi Media, Politik dan Pendidikan, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
-----------------------, 1987.Islam Aktual, Bandung : Mizan.
Sambas, Sukriadi, 1999.Sembilan Pasal Pokok-Pokok Filsafat Dakwah (Diktat), (Bandung : Fakultas Dakwah IAIN Sunan Gunung Jati.
Sanwar, M. Aminuddin, 1986Pengantar Ilmu Dakwah, (Diktat), Semarang : Fakultas Dakwah IAIN Waliswongo.
Shihab, M. Quraish, 2000.Wawasan Al Qur’an : Tafsir Maudzu’i Atas Berbagai Persoalan Umat, Bandung : Mizan.
Sholihati, Menimang Media Dakwah : Menapaki Abad 21, dalam Risalah Walisongo, Edisi 80/TH.XX/Jan-Juni 2000
Surya, Mohamad, Pola Pendidikan Anak di Tengah Derasnya Arus Hiburan Televisi, dalam Jurnal Komunikasi AUDIENTIA, Volume I, Nomor 4 Tahun 1993.
Syukir, Asmuni, 1983.Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, Surabaya : al-Ikhlas.
Wibowo, Fred. 1997.Dasar-Dasar Produksi Program Televisi, Jakarta: Grasindo.

1 comment:

  1. Ass, Pak Fandi. Izinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Inaya, mahasiswa S3 Murdoch University, Australia yang sedang studi tentang representasi Islam dalam televisi di Indonesia (1945-2008). Saya tertarik dengan artikel2 yang Pak Fandi tulis, apakah pernah dipublikasikan di jurnal ilmiah atau media? Saya ingin mengutipnya dalam penelitian saya. Apakah boleh saya hubungi Pak Fandi via email? Sebelumnya terimakasih banyak. Salam, Inaya

    ReplyDelete