Wednesday, May 5, 2010

PENDIDIKAN ANAK DAN TELEVISI


TELEVISI DAN PENDIDIKAN ANAK DALAM KELUARGA
Oleh : M. Alfandi
Abstract
Televisi memiliki berbagai kelebihan, baik dari sisi programatis maupun teknologis. Dengan kelebihan dan kekuatannya televisi dapat memberikan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan anak, baik yang sifatnya positif ataupun negatif. Salah satu sisi dampak positifnya adalah televisi dapat memberikan hiburan (rasa senang, kesegaran dan kebahagiaan), informasi dan nilai-nilai pendidikan bagi anak. Namun di sisi lain televisi kadang dapat berdampak negatif terhadap anak; seperti tidak memberikan rasa senang dan kebahagiaan, perilaku menyimpang, pengikisan nilai-nilai dan kecanduan terhadap acara-acara tertentu yang dapat mengganggu minat anak terhadap aktifitas lain yang lebih penting. Oleh karena itu, keluarga (utamanya orangtua) memiliki peran penting untuk senantiasa mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan sebagai akibat dari datangnya media televisi terhadap anak-anak di rumah. Televisi dapat berdampak positif atau negatif terhadap anak tergantung pada bagaimana keluarga (orangtua) me-manage- penggunakan televisi. Tanpa adanya keterlibatan aktif dari keluarga untuk mengarahkan dan membimbing anak dalam penggunaan televisi, maka dimungkinkan televisi akan berdampak negatif terhadap anak.

Kata Kunci : Televisi, Pendidikan Anak, dan Keluarga

A. Pendahuluan
Pendidikan anak secara sederhana dapat diartikan sebagai bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak menuju terbentuknya kepribadian anak yang utama. Pendidikan anak dapat berlangsung dalam Tri Pusat Pendidikan, yaitu Keluarga, Sekolah dan Masyarakat. Dari ketiga Tri Pusat Pendidikan tersebut yang pertama kali dikenal dan merupakan kesatuan hidup bersama dengan anak adalah keluarga, yang kemudian disebut lingkungan pendidikan utama, serta sebagai salah satu lembaga pendidikan informal, yang pengaruhnya besar sekali terhadap kehidupan anak. Tujuan pendidikan keluarga menurut Ahmad Tafsir adalah agar anak mampu berkembang secara maksimal, yang meliputi jasmani, akal dan rohani.
Menurut Seorjono Soekanto melalui lingkungan keluarga anak mengalami proses sosialisasi awal untuk mengenal dunia sekitarnya dan pola pergaulan hidup yang berlaku sehari-hari, serta terjadi hubungan sosial timbal balik antar anggota keluarga. Melalui hubungan ini pulalah menurut Yoichi Nishimoto telah terjadi pertukaran pengalaman dan pengetahuan dari yang paling sederhana sampai dengan yang kompleks. Demikian pula terjadi penambahan pengalaman dan pengetahuan melalui berbagai fasilitas yang dimiliki keluarga, seperti melalui bahan bacaan, televisi, radio, komputer dan fasilitas sejenis lainnya.
Berbagai fasilitas yang dimiliki keluarga, juga dimungkinkan dapat menyebabkan tumbuh dan berkembangnya berbagai minat anak dalam penggunaan fasilitas itu. Namun kadang karena kurangnya perhatian dari keluarga dalam mengatur dan mengarahkan anak, yang terjadi justru minat anak terhadap fasilitas tertentu mengurangi dan mengalahkan tumbuh dan berkembangnya minat anak terhadap fasilitas lain yang lebih penting.
Sebagai contoh fenomena di atas adalah minat anak terhadap bacaan yang sangat penting bagi anak-anak usia sekolah justru terkalahkan oleh minat anak terhadap televisi yang dimiliki keluarga. Padahal menurut Farmawi M. Farmawi bahwa membaca memiliki peranan penting dalam kehidupan anak yaitu memperluas jaringan informasi, membuka wawasan kebudayaan, mewujudkan kesinambungan, mendidik kepekaan rasa, dan membantu memecahkan kesulitan anak. Membaca dapat menanamkan nilai-nilai ilmu bagi anak dan keselarasan pribadi dengan masyarakatnya. Selain itu menurut M. Quraish Shihab membaca merupakan jalan anak untuk mencapai derajat kemanusiaan yang sempurna dan merupakan syarat utama untuk membangun peradaban. Menurut Mulyono Abdurrahman kemampuan membaca juga merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studi. Jika anak pada usia sekolah permulaan tidak segera memiliki kemampuan membaca, maka ia akan mengalami banyak kesulitan dalam mempelajari berbagai bidang studi pada kelas-kelas berikutnya. Maka anak harus belajar membaca agar ia dapat membaca untuk belajar.
Sedikit paparan mengenai pentingnya aktifitas membaca bagi anak di atas bukan berarti penulis ingin menafikan pentingnya aktifitas anak yang lain, namun demikian dengan melihat pentingnya membaca bagi anak, maka orangtua sebagai kendali utama keluarga dapat mewujudkan perannya dalam peningkatan minat membaca anak dengan mengarahkan berbagai minat anak dalam mempergunakan berbagai fasilitas di rumah, yang diduga dapat berdampak negatif terhadap minat anak dalam membaca, seperti minat anak dalam menonton televisi.

B. Televisi dan Pengaruhnya terhadap Anak
Televisi sebagai salah satu fasilitas di rumah memiliki berbagai kelebihan, baik dari sisi programatis maupun teknologis. Dengan kelebihan dan kekuatannya televisi diduga dapat memberikan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan anak, baik yang sifatnya positif ataupun negatif. Salah satu sisi dampak positifnya adalah televisi dapat memberikan hiburan (rasa senang, kesegaran dan kebahagiaan), informasi dan nilai-nilai pendidikan bagi anak. Sebagaimana disampaikan Himmelweit dari hasil penelitiannya tahun 1985, bahwa siaran televisi sangat besar peranannya sebagai sarana sosialisasi anak. Melalui televisi anak mengenal lingkungan dan masyarakat lain, dan belajar dari hal-hal yang tidak diperoleh anak di rumah dan sekolah. Namun di sisi lain menurut Muhammad Surya, hiburan di televisi kadang justru diduga dapat berdampak negatif terhadap anak; seperti tidak memberikan rasa senang dan kebahagiaan, perilaku menyimpang, pengikisan nilai-nilai dan kecanduan terhadap acara-acara tertentu yang dapat mengganggu minat anak terhadap aktifitas lain yang lebih penting.
Kontroversi mengenai dampak televisi terhadap pemirsanya memang masih ada. Hal ini menurut Ahmad Zaini Abar dapat dilihat dari adanya dua pandangan yang saling berhadapan (vis a vis), yaitu pandangan optimistik dan pesimistik. Pandangan optimistik (the enthusiastic position), melihat media televisi sebagai kekuatan (informasi) yang dapat mempengaruhi kognisi, afeksi dan bahkan perilaku pemirsanya. Sedangkan pandangan pesimistik (the null position), melihat informasi yang diproses televisi tidak akan berpengaruh terhadap pemirsanya. Sebab pemirsa dianggap punya daya tahan dan kemampuan rasional untuk memilih dan membedakan mana informasi yang berguna dan mana yang tidak. Dengan melihat kedua pandangan tersebut, jika dikaitkan penontonnya adalah anak-anak, maka pandangan pertamalah yang benar; karena tanpa arahan orang dewasa, anak-anak belum tentu dapat membedakan mana informasi dari televisi yang berguna dan mana yang tidak untuknya.
Sejalan dengan pandangan pertama yang menganggap media televisi dapat mempengaruhi pemirsanya, beberapa pakar dan ahli juga menyatakan kekhawatiran dari dampak televisi. Menurut Fred Wibowo televisi sebagai bagian dari kebudayaan audiovisual merupakan medium yang diduga paling kuat pengaruhnya dalam membentuk sikap dan kepribadian anak. Bambang Sugiharto, dosen Universitas Parahiyangan Bandung juga menyatakan bahwa budaya menonton televisi membuat rasionalitas anak tidak dapat berkembang, hati nurani membeku, serta anak mudah lari dari tanggung jawab apabila menghadapi suatu persoalan. Demikian juga menurut De-Fleur dan Dennis, peniruan anak dari televisi tidak sekedar bersifat fisik dan verbal, tetapi peniruan anak justru terhadap nilai-nilai yang dianut oleh tokoh-tokoh yang dilukiskan dalam acara-acara di televisi. Pengaruh televisi tidak harus langsung terlihat, namun terpaan yang terulang-ulang pada akhirnya dapat mempengaruhi sikap dan tindakan anak. Meminjam kata-kata Prof. Chiam Heng Keng dari Universitas Malaya, bahwa “dampak televisi terhadap moral dan sikap anak lebih halus, bergerak perlahan-lahan, diam-diam dan tanpa terasa serta disadari oleh penonton, sehingga perubaan tersebut cukup signifikan untuk teramati”.
Menurut Jalaluddin Rakhmat, di Indonesia ketika stasiun siaran televisi hanya ada TVRI, mungkin efek televisi terhadap anak tidak terlalu besar, karena : pertama, waktu siaran TVRI hanya malam hari saja, dan kedua, acara TVRI tidak begitu menarik. Tetapi dengan kehadiran beberapa televisi swasta, efek televisi terhadap anak menjadi sangat sukar untuk diramalkan. Sebab disamping terjadinya penjadwalan ulang kegiatan anak sehari-hari, juga terjadi apa yang oleh para ahli komunikasi disebut displacement effect; artinya anak mengganti beberapa kegiatan dengan menonton televisi. Jadi anak-anak yang seharusnya belajar dan membaca buku, sekarang lebih memilih untuk menonton televisi. Semakin televisi hadir di tengah keluarga mereka, semakin sedikit waktu yang mereka pergunakan untuk membaca buku.
Oleh karena itu, keluarga (utamanya orangtua) memiliki peran penting untuk senantiasa mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan sebagai akibat dari datangnya media televisi terhadap anak-anak di rumah. Karena sebagaimana disampaikan Patricia Marks Greenfield, bahwa menonton televisi dapat menjadi kegiatan pasif yang mematikan apabila orang tuanya tidak mengarahkan apa-apa yang boleh dilihat oleh anak-anak mereka dan sekaligus mengajar anak itu untuk menonton secara kritis serta untuk belajar dari apa-apa yang mereka tonton. Demikian juga menurut Robert Coles, seorang Psikiatri dari Universitas Harvard menulis buku The Moral life of Children dan dalam artikelnya What Makes Some Kid’s More Vulnerable to The Worst of TV ? (1989), bahwa anak-anak dari kelas yang mutu kehidupannya rendah sangat rawan terhadap pengaruh siaran buruk televisi. Orang tuanyalah yang bisa mencegah apa yang dinamakan The Coruption of Television Screen. Situasi keluargalah yang menjadi variabel moderator hubungan antara tayangan di televisi dengan perilaku tertentu pada anak-anak.

C. Hubungan Menonton Televisi dengan Membaca
Televisi hadir di Indonesia memang di tengah budaya membaca yang belum mapan. Dibandingkan dengan negara asalnya, Amerika dan Inggris, televisi di sana datang setelah budaya membaca telah mapan. Walaupun demikian ternyata dari hasil penelitian di Amerika Serikat tahun 1971 masih menunjukkan masyarakat menghabiskan lebih banyak waktunya (sekitar 30 s/d 40 jam perminggu) untuk menonton televisi. Sedangkan waktu yang digunakan untuk membaca dari media cetak hanya sekitar 2 s/d 4 jam perminggunya. Apalagi di Indonesia sebenarnya belum memasuki kebiasaan membaca. Ini dapat dilihat lihat dari penelitian yang dilakukan Deppen tahun 1992 di 20 propinsi, yang menunjukkan jumlah jam menonton televisi rata-rata 1 jam 12 menit per hari (pada hari kerja) dan 1 jam 46 menit per hari (pada hari libur) dibanding dengan jumlah waktu yang digunakan untuk membaca yang hanya 24 menit per hari (pada hari kerja) dan 17 menit per hari (pada hari libur). Selain itu juga dapat dilihat dari oplah surat kabar dan jumlah penerbitan buku yang masih jauh apabila dibandingkan dengan negara-negara maju. Jumlah buku yang terbit di Jepang, 44.000 judul buku setiap tahun (termasuk 21.000) terjemahan). Sementara di Amerika Serikat 100.000 judul, dan Inggris 61.000 judul per tahun. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya menerbitkan 2.500 judul setiap tahun.
Beberapa hasil penelitian yang berhubungan dengan masalah minat menonton televisi dengan minat membaca bagi anak memang masih menunjukkan hasil atau kesimpulan yang berbeda-beda. Ada hasil penelitian yang menyimpulkan bahwa kehadiran televisi di rumah dapat menyebabkan minat anak dalam membaca menjadi menurun dan ada yang tidak. Ketidak-samaan kesimpulan tersebut bisa jadi karena situasi dan kondisi obyek atau lokasi penelitian yang berbeda, atau kemungkinan karena pendekatan dan metodologi penelitian yang berbeda sehingga hasilnya juga berbeda-beda. Namun yang lebih penting untuk di fahami dalam melihat perbedaan hasil penelitian tersebut adalah bahwa televisi itu bukan merupakan single factor yang menyebabkan minat anak dalam membaca menjadi turun atau naik, tetapi banyak faktor yang mempengaruhi hubungan ini. Utamanya mengenai faktor dalam lingkungan keluarga anak.
Beberapa kesimpulan penelitian yang berbeda-beda tersebut adalah sebagai berikut :
a. Penelitian Departemen Penerangan, Leknas dan LIPI tahun 1977/ 1978 menemukan bahwa akibat masuknya televisi di pedesaan, pola kehidupan anak berubah; anak-anak sekolah menjadi mundur dalam pelajaran, karena waktu malamnya dihabiskan untuk menonton televisi, bukan untuk belajar; frekuensi membolos sekolah dan mengaji lebih tinggi.
b. Penelitian Kathy A. Zahler bahwa sekitar 75 % anak-anak pembaca yang kemampuannya di bawah rata-rata biasanya mereka menonton televisi terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah dan mereka 2 kali lebih banyak menonton televisi dibandingkan dengan anak-anak pembaca yang berkemampuan rata-rata atau di atas rata-rata, yaitu dengan durasi menonton televisi lebih dari 4 (empat) jam sehari.
c. Penelitian di Amerika Serikat dan Inggris ditemukan bahwa pengaruh kehadiran televisi tidak begitu berarti pada aktifitas belajar anak sekolah. Saat kecerdasan menjadi ukuran, terdapat hubungan sangat kecil antara banyaknya menonton televisi dan prestasi belajar, jadi tidak ada pengaruh bagi waktu luang atau pekerjaan rumah anak. Anak yang menonton televisi malahan bisa melengkapi pekerjaan rumahnya dan melakukan pekerjaan lain apabila televisi tidak menyediakannya.
d. Penelitian di Jepang juga ditemukan bahwa waktu luang anak untuk pekerjaan rumah terkikis dan kemampuan membaca menurun (teristimewa anak-anak usia 5-7 tahun) untuk kelompok anak dari keluarga yang belajar dengan kehadiran televisi.
e. Patricia mengutip dari S. Gadberry dan M. Schneider dalam sebuah penelitian eksperimen, dikuranginya waktu normal bagi anak umur 6 tahun untuk menonton televisi, ternyata menyebabkan bergesernya gaya intelektual yang lebih suka menuruti kata hatinya ke yang lebih suka memikirkan sesuatu hingga menghasilkan sejumlah peningkatan dalam IQ nonverbalnya.
f. Penelitian Bank Dunia tahun 1992 dalam laporannya Indonesia Book and Reading Development Study mengungkapkan soal hubungan menonton televisi dengan minat dan kemampuan baca anak, yang hasilnya menunjukkan tidak adanya hubungan linier antara keduanya. Banyak anak yang keranjingan membaca adalah juga penonton berat siaran televisi. Di pihak lain anak-anak yang jarang menonton televisi, tetapi kemampuan membacanya juga rendah.
g. Penelitian yang dilakukan International Association for the Evaluation of Education Achievement (IEA) tahun 1992 di Indonesia terhadap kemampuan membaca 3169 murid kelas IV Sekolah Dasar di 4 (empat) propinsi dan 1929 siswa SLTP di 7 (tujuh) provinsi. Menurut laporan itu anak-anak Indonesia menonton televisi setelah pulang sekolah. Lebih dari separoh anak Sekolah Dasar menonton televisi 1 s/d 5 jam per hari. Sekitar seperempat anak menonton televisi kurang dari 1 jam, dan hanya seperlima anak yang tak pernah menonton televisi. Sekitar 80 % anak dapat menonton televisi, tapi hanya 40 % yang mempunyai televisi, jadi 40 % lagi menonton di tetangga, teman atau tempat umum. Korelasi menonton televisi dengan perilaku membaca cuma 0,07, yang berarti hampir tidak ada hubungan. Yang lebih besar korelasinya justru variabel-variabel keluarga, misalnya status ekonomi dan iklim keluarga korelasinya di atas 0,20. Di SMP hanya 5,5 % anak yang tidak menonton televisi, 20 % menonton kurang dari 1 jam/ hari, 15 % antara 1-3 jam dan 23 % menonton lebih dari 3 jam. Dari angka itu 3 dari 4 anak menonton lebih dari 1 jam. Anehnya secara umum ada kecenderungan makin lama anak menonton televisi, makin tinggi skor tes prestasi dan kebiasaan membacanya. Misalnya mereka yang menonton televisi kurang dari 1 jam mencapai skor rata-rata 41,1 dalam tes membaca dan 88,2 untuk kebiasaan membaca. Sedangkan mereka yang menonton televisi 4-5 jam mencapai skor masing -masing 52,9 dan 100,5. Akan tetapi anak yang menonton televisi lebih dari 5 jam, prestasi dan kebiasaan membacanya anjlok hingga mencapai 47,3 dan 96,8. Di SMP korelasi antara frekuensi menonton televisi dengan kebiasaan membaca adalah 0,19. Minat siswa SMP terhadap televisi tampak juga terhadap kenyataan bahwa acara televisi dan film di surat kabar adalah yang paling populer, yang dibaca 56 % siswa SMP. Ini mengalahkan daya tarik berita politik (52 %), cerita dan mode (18 %), bisnis dan keuangan (13 %). Peneliti kemudian menyimpulkan : teori yang menyatakan bahwa makin lama anak menonton televisi makin sedikit waktu untuk membaca tidak terbukti. Anak-anak yang banyak menonton televisi, prestasi membacanya tinggi, meskipun jika berlebihan (lebih dari 5 jam) pengaruhnya menjadi negatif terhadap membaca. Menurut IEA bahwa bukan hanya karena televisi jika kemampuan membaca anak-anak Sekolah Dasar kita menurut IEA menempati peringkat 26 dari 27 negara yang disurvei, dengan rata-rata 36,1 dari materi yang diteskan. Dan juga bukan karena televisi jika siswa SMP berada pada peringkat terakhir dari 5 negara Asia yang disurvei, meskipun masih lebih baik dari prestasi anak SD. Kalau begitu apa ? Keluargalah sebagai faktor moderatornya dalam hubungan ini.
h. Hasil penelitian yang dilakukan penulis terhadap 275 siswa kelas IV, V dan VI SD H. Isriati Baiturrahman Semarang mengenai hubungan minat siswa dalam menonton televisi dengan minat siswa dalam membaca menghasilkan kesimpulan bahwa “minat siswa dalam menonton televisi tidak berpengaruh negatif terhadap minat siswa dalam membaca”. Walaupun minat siswa dalam menonton televisi tinggi, akan tetapi minat siswa dalam membaca juga tinggi. Tidak terjadinya pengaruh yang negatif dari minat siswa dalam menonton televisi terhadap minat siswa dalam membaca, dikarenakan keluarga siswa berperan positif terhadap hubungan kedua hal tersebut. Walaupun keluarga turut berperan dalam tumbuh dan berkembangnya minat siswa dalam menonton televisi, seperti lingkungan fisik, budaya, dan sosial keluarga yang mendukung terjadinya minat siswa dalam menonton televisi, keluarga siswa juga mengimbanginya dengan berperan positif terhadap terjadinya minat siswa dalam membaca. Hal itu ditunjukkannya melalui keberadaan lingkungan fisik, budaya, dan sosial keluarga yang juga mendukung terciptanya minat siswa dalam membaca. Terciptanya lingkungan fisik, budaya, dan sosial keluarga yang mendorong terjadinya minat siswa dalam membaca karena didukung pula oleh kondisi ekonomi dan pendidikan keluarga yang juga tinggi. Hal ini terlihat dari data penelitian bahwa siswa SD H. Isriati Baiturrahman Semarang sebagian besar berasal dari keluarga yang keadaan sosial ekonominya menengah atas. Demikian juga strata pendidikan orangtua siswa yang 82.8 %-nya adalah berpendidikan atau lulusan S.1, S.2 dan bahkan beberapa diantaranya S.3.

E. Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa :
1. Televisi dapat berdampak positif atau negatif terhadap anak tergantung pada bagaimana keluarga (orangtua) me-manage- penggunakan televisi. Tanpa adanya keterlibatan secara aktif dari keluarga untuk mengarahkan anak dalam penggunaan televisi, maka dimungkinkan televisi akan berdampak negatif terhadap anak.
2. Minat anak dalam menonton televisi tidak akan berpengaruh secara langsung terhadap minat anak dalam membaca manakala keluarga juga mengimbanginya dengan berperan positif terhadap terjadinya minat anak dalam membaca. Akan tetapi jika keluarga bersikap pasif, maka dapat dimungkinkan minat anak dalam membaca akan berkurang atau menurun.
3. Demikian terima kasih, semoga bermanfaat. Amin.




DAFTAR PUSTAKA
A. Alatas Fahmi, Bersama Televisi Merenda Wajah Bangsa, (Jakarta : Yayasan Pengkajian Komunikasi Masa Depan (YPKMD), 1997).
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung : al-Ma’arif, 1980).
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1994).
Ary H. Gunawan, Sosiologi Pendidikan : Suatu Analisis Sosiologi Tentang Pelbagai Problem Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 2000).
Ashadi Siregar, Menyingkap Media Penyiaran : Membaca Televisi Melihat Radio, (Yogyakarta : Lembaga Penelitian Pendidikan Penerbitan Yogya (LP3Y), 2001).
Darwanto Sastro Subroto, Televisi Sebagai Media Pendidikan, (Yogyakarta : Duta Wacana University Press bekerjasama dengan Media Wiyata, 1992).
Deddy Mulyana, Nuansa-Nuansa Komunikasi : Meneropong Politik dan Budaya Komunikasi Masyarakat Kontemporer, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1999).
------------------ dan Idy Subandi Ibrahim (Eds.), Bercinta Dengan Ilusi, Impresi dan Imaji Sebuah Kotak Ajaib, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1997).
Farmawi M. Farmawi, dkk., Memanfaatkan Waktu Anak : Bagaimana Caranya ?, terjemahan Muchotob Hamzah dan Subakir Saerozi, (Jakarta : Gema Insani, 2001).
Fred Wibowo, Dasar-Dasar Produksi Program Televisi, (Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia, 1997).
Harrison, R.P. (1971), Other Ways of Packaging Information dalam Comunication : Concept and Processes, (ed.) Josep De Vito, (USA : Prentice Hall, 1971).
Ishadi SK., Dunia Penyiaran : Prospek dan Tantangannya, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1999).
Jalaluddin Rakhmat, Catatan Kang Jalal : Visi Media, Politik dan Pendidikan, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1998).
---------------------, Islam Aktual, (Bandung : Mizan, 1987).
Jurnal Sarjana Komunikasi Indonesia : Manajemen Krisis, Volume II/Oktober 1998, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1998).
Kathy A. Zahler, 50 Cara Menuntun Anak Agar Gemar Membaca, terjemahan dari “50 Simple Things You Can Do to Raise a Child Who Loves to Read” oleh Wayan Gede Aksara, (Jakarta : Prestasi Pustaka, 2001).
Lerner, J.W., Learning Disabilitas, (New Jersey : Houghton Mifflin, 1988).
Lestari H.N., “Buku : Kunci Kecerdasan Bangsa, Mengapa Dibajak ?”, dalam KOMPAS, 31 Mei 1997.
Lowery, S.A. dan DeFleur, M.L., Milestones in Mass Comunication Research, (New York : Longma, 1988).
M. Abuddin Nata, Paradigma Pendidikan Islam : Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia bekerjasama dengan IAIN Syarif Hidayatullah, 2001)
M. Quraish Shihab, Membumikan Al Qur’an : Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung : Mizan, 2001).
Milthon Chen, Anak-Anak dan Televisi : Buku panduan Orangtua Mendampingi Anak-Anak Menonton Televisi, terjemahan dari “The Smart Paren,t Guide to KID’S Televisi” oleh Bern Hidayat, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1996).
Mohamad Surya, “Pola Pendidikan Anak di Tengah Derasnya Arus Hiburan Televisi” (artikel), dalam Jurnal Komunikasi AUDIENTIA, Volume I, Nomor 4 Tahun 1993.
Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta : Pusat Perbukuan DEPDIKBUD kerjasama dengan Rineka Cipta, 1999).
Nishimoto, TV Video Software in Educational Application, Theory and Practice, (Tokyo : Japanese Council for Overseas Educational Media Development, 1986).
P.C.S. Sutisno, Pedoman Praktis Penulisan Skenario Televisi dan Radio, (Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 1993).
Patricia Marks Greenfield, Pengaruh Televisi, Video Game, Komputer Terhadap Pendidikan Anak, (Jakarta : Kesaint Blanc., 1989).
Retno Sriningsih Satmoko, Landasan Kependidikan : Pengantar Ke Arah Ilmu Pendidikan Pancasila, (Semarang : IKIP Semarang Press, 1999).
Siti Sholihati, “Menimang Media Dakwah : Monopoli Abad 21”, dalam Risalah Walisongo, Edisi 80/Th.XX/Jan-Jun. 2000.
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1994.
SUN, 20 Oktober 1997.
Suwarno, Pengantar Umum Pendidikan, (Jakarta : Aksara Baru, 1985).
T. Furu, Television and Children’s Life : A Before-After Study, (Tokyo : Japan Broadcasting Corporation, 1962).
Zahara Idris, Dasar-Dasar Kependidikan, (Padang : Angkasara Raya, 1986).

No comments:

Post a Comment