Thursday, May 6, 2010

EROTISME DALAM PERSPEKTIF ISLAM


EROTISME DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Oleh : H.M. Alfandi, M.Ag. *)

Para sedulur, Pembaca Meteor yang Budiman.
Erotisme kabarnya telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam sejarah peradaban manusia. Bahkan dalam sejarah paling dini dalam peradaban manusia, erotisme memiliki hubungan erat dengan perilaku kekerasan. Kisah Kabil dan Habil adalah contoh gamblang betapa erotisme menyebabkan terjadinya perilaku kekerasan. Kisah kekerasan itu dimulai ketika Kabil menginginkan wanita yang sebelumnya telah ditetapkan akan menjadi pasangan Habil. Dorongan erotisme yang begitu menggebu-gebu tampaknya telah menguatkan niat Kabil untuk menerapkan cara-cara kekerasan, yaitu membunuh Habil. Sebagaimana kita ketahui ceritera ini berakhir dengan kematian Habil. Kisah Kabil dan habil tampaknya merupakan kisah pertama tentang akibat erotisme terhadap perilaku kekerasan dalam sejarah peradaban manusia.
Kini, dalam masa yang disebut sebagai abad televisi, erotisme hadir kembali dihadapan kita setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik. Wanita-wanita cantik sering kita lihat menjadi objek penayangan iklan beberapa produk. Mereka ditampilkan tidak jarang hanya setengah sampai dua pertiga telanjang.Yang ditonjolkan adalah daya tarik seksual dan sensualitas. Paha dan dada tampaknya masih menjadi bumbu kebanyakan iklan di televisi, bahkan juga banyak di media lain seperti Koran dan majalah.
Menonjolnya hal-hal yang mengumbar aurat atau berkonotasi porno dalam iklan memang memiliki daya tarik tersendiri bagi pemirsanya. Namun hal ini juga membuat konsumer keberatan (hasil Survey YLKI tahun 1996), terutama untuk produk-produk yang terkesan dengan sengaja menggunakan kepornoan untuk menarik perhatian konsumen. Keberatan ini terutama jika produk yang diiklankan terkesan tidak relevan dengan “kepornoan” yang ditampilkan. Sebagai contoh produk Hand Phone yang diiklankan dengan tampilan gambar hand phone menggelantung di dada perempuan yang “menonjol”. Contoh lain iklan tegel atau keramik, yang menawarkan tegel keramik dengan menampilkan wanita berpakaian minim dengan penutup dada dari bahan semacam metal dan gaya yang sangat sensual, dan tegel keramik dijadikan sebagai tameng. Demikian juga iklan yang mengundang perdebatan adalah iklan sebuah merk kopi yang dengan rayuan erotis mengatakan “Pas Susunya”. Jadi, mana yang lebih menarik produk hand phone, keramik dan kopi atau wanitanya. Ini hanya merupakan sebagian contoh erotisme dalam bentuk iklan, masih banyak contoh-contoh lain yang tidak disebut dalam tulisan ini.
Erotisme ini tampil tidak hanya dalam bentuk iklan tapi juga dalam bentuk film, sinetron, dan bahkan kasus yang pernah menghebohkan “bumi Indonesia” dan memunculkan pendapat pro dan kontra di berbagai kalangan adalah munculnya berbagai macam goyangan erotis dari para artis dangdut kita. Ada goyangan “ngebor yang heboh”, yang kemudian juga diikuti oleh goyangan-goyangan lain, seperti goyang patah-patah, goyang Jaipong dengan kaki di angkat satu, goyang gaya kayang, dan masih banyak penyanyi lainnya yang menampilkan goyangan dan tarian erotis.

Pandangan Islam
Para sedulur, Pembaca Meteor yang Budiman.
Industri media massa telah “menjebak” wanita ke dalam lingkaran setan. Aspirasi-aspirasi mereka dikontrol dan dibatasi oleh gagasan-gagasan yang mereka peroleh dari media massa. Dalam memandang dan memperlakukan wanita, kadang media massa bersikap paradoks. Di satu sisi media massa mempromosikan kemajuan dan prestasi wanita, tapi di sisi lain media massa juga “melemparkan” wanita kembali kepada keterbelakangan, dengan tetap menonjolkan keutamaan wanita sebagai makhluk yang melulu ingin menarik perhatian lawan jenisnya.
Pesan-pesan media massa sedemikian halus sehingga para pemirsa wanita sendiri tidak menyadari bahwa mereka digiring ke dalam suatu ideologi tertentu, yang sesungguhnya bertentangan dengan nilai-nilai agama tentang identitas dan peran mereka. Islam mengajarkan sebagaimana yang tertuang dalam banyak ayat Al-Qur’an. Misalnya dalam QS. al-A’raf : 26 dikatakan ”Hai anak Adam [umat manusia], Sesungguhnya kami Telah menurunkan kepadamu Pakaian untuk menutup auratmu dan Pakaian indah untuk perhiasan. dan Pakaian takwa [selalu bertaqwa kepada Allah] Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat”.
Dalam QS. Al-Hujurot : 13, Allah juga berfirman ”Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. Dari ayat tersebut tersirat bahwa wanita adalah makhluk Allah yang kualitasnya seperti juga pria, bukan terletak pada fisiknya ataupun kemampuannya untuk memuaskan pria, melainkan pada ketaqwaannya.
Dalam ayat yang lain Allah memperintahkan wanita untuk menutup aurat, ”Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (QS. An-Nuur : 31).59.
Demikian juga dalam QS. Al Ahzab Allah berfirman : 59 ”Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Islam memandang wanita sebagai manusia yang harus diperlakukan secara serius. Secara implisit beberapa ayat tersebut mengisaratkan bahwa nilai mereka bukan terletak pada penampilan fisik mereka, melainkan pada kata-kata, gagasan-gagasan dan kebajikan-kebajikan. Wallahu a’lam bish-shawab.

*) Penulis adalah Dosen Komunikasi & Penyiaran Islam, dan Ketua Laboratorium Dakwah Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang.

No comments:

Post a Comment