Wednesday, May 5, 2010

DAKWAH MELALUI SINETRON


SINETRON DAN FILM MISTIS RELIGIOUS DALAM PERSPEKTIF DAKWAH )
Oleh : M. Alfandi
A. Pendahuluan
Salah satu acara di televisi yang beberapa waktu lalu menarik perhatian para pemirsanya adalah tayangan-tayangan sinetron yang bernafaskan mistis religious. Penayangan bentuk sinetron yang bernafaskan mistis religious tersebut diawali oleh sinetron Rahasia Illahi (TPI) yang ide ceritanya lebih banyak diadopsi dari Majalah Hidayah. Kemudian berturut-turut muncul sinetron sejenis lain seperti KehendakMU (TPI), Taqdir Illahi (TPI), Di Balik Kuasa Illahi (Indosiar), Hanya Tuhan Yang Tahu (Indosiar), Titipan Illahi (Indosiar), Astaghfirullah (SCTV), Kuasa Illahi (SCTV), Hidayah (TV 7), Tuhan Ada Dimana-mana (RCTI), Insyaf (Trans TV), Adzab Illahi (Lativi), dan masih ada sinetron-sinetron sejenis lainnya.
Maraknya tayangan beberapa sinetron mistis religious yang menempati primetime dan sekaligus menempati rating tertinggi tersebut sebelumnya telah dimulai dengan munculnya beberapa acara reality show tentang kisah-kisah mistis pula yang dikemas sedemikian rupa, yang dapat mengaduk-aduk perasaan takut dan penasaran bagi pemirsa. Acara-acara itu seperti Dunia Lain/ Uji Nyali (Trans TV), Uka-Uka (TPI), Ihh Seremm (TPI), Ekspedisi Alam Ghaib/ Penampakan (TV 7), Pemburu Hantu (Lativi), Percaya Nggak Percaya (ANTV), Di Balik Pesugihan (ANTV), dan lain-lain.
Paparan di atas menunjukkan bahwa cerita-cerita mistis yang dibungkus dengan berbagai kemasan tersebut masih laku dijual. Yang lebih menarik lagi bahwa tayangan-tayangan mistis ini dikemas dengan menggunakan pendekatan religious. Mulai dari reality show tentang kisah-kisah mistis sampai munculnya sinetron-sinetron tersebut juga dikemas dengan menggunakan pendekatan religious. Dalam tayangan reality show mistik sering dihadirkan paranormal yang berpenampilan spiritualis dan mampu menaklukkan mahluk ghaib dengan menggunakan do’a-do’a agama. Demikian juga dalam sinetron mistik, kalau dilihat dari judul-judul sinetron tersebut secara eksplisit justru menunjukkan sebuah “sinetron religious”, termasuk dalam tayangan di dalamnya juga sering memunculkan simbol-simbol keagamaan, seperti bacaan Al Qur’an, praktek keagamaan, kostum muslim dan muslimah, setting masjid dan musholla, dan lain-lain. Persoalannya bagaimana sinetron-sinetron itu kalau dipandang dari perpektif dakwah ?

Dakwah atau Bukan ?
Di kalangan akademisi dakwah, munculnya tayangan sinetron mistis yang dikemas dengan menggunakan simbol-simbol kegamaan tersebut memang masih menjadi persoalan, apakah sinetron tersebut dapat disebut sebagai sinetron dakwah atau tidak. Sebagaimana disampaikan oleh M. Sulthon, yang masih mempunyai kekawatiran dan keraguan, karena dengan munculnya sinetron-sinetron tersebut justru dikawatirkan akan membelokkan subtansi dari ajaran Islam itu sendiri. Hal ini dicontohkan dengan adanya kekawatiran munculnya dampak negatif terhadap anak-anak yang diakibatkan karena menonton sinetron-sinetron tersebut, yang tanpa didampingi atau disertai penjelasan dari orang tuanya. Anak-anak ketika mendengar bacaan Alqur’an (ex. Kalimat La Ilaha Illallah), justru akan memunculkan imajinasi, ketakutan-ketakutan dan bayangan-bayangan tentang dunia mistis (orang mati) dan lain sebagainya, yang itu justru dapat membelokkan substansi dari kalimat La Ilaha Illallah itu sendiri. Padahal La Ilaha Illallah di mata orang Islam, kalimat itu begitu suci dan penuh makna.
Bahkan sineas dan aktor kawakan -Deddy Mizwar-, menyanyangkan maraknya sinetron yang bertema mistis dengan bumbu religius tersebut. Sinetron yang bertema religius seharusnya tidak mengeksploitasi hal-hal yang bersifat mistis mengenai jin dan setan. Ia menilai yang terjadi saat ini, sebenarnya tema sinetron belum bergeser secara signifikan dari tema mistis ke religius. Menurutnya "Sekarang ini banyak sinetron yang katanya sinetron religius, tapi sebetulnya bukan. Sinetron semacam itu, hanya akan menjadi sosialisasi yang menyesatkan, karena agama bukan mistis melulu. Meskipun ada unsur mistisnya, tapi mengenai hal-hal yang ghoib, hanya Allah yang tahu,"
Mengenai kehadiran ustad dan ayat-ayat Al Qur`an dalam sinetron semacam Rahasia Ilahi, Taqdir Ilahi, dan Allah Maha Besar, ia berpendapat bahwa unsur tersebut hanya sekedar "bumbu". "Hanya pengembangan dari tema-tema mistis sebelumnya, dengan ditambah ayat-ayat dan ustad, tapi tetap dalam tema mistis. Dua unsur itu (ayat dan ustadz) kecil sekali porsinya, jadi masalahnya bukan pada ayat dan ustadnya. Apa yang disampaikan ustad tentang ayat adalah benar, tapi dia tidak memiliki ruang untuk menyampaikan ayat itu secara jelas,"
Menurutnya, sinetron yang diproduksinya “Lorong Waktu, Kiamat Sudah Dekat dan Para Pencari Tuhan” yang pernah ditayangkan di SCTV berbeda dengan sinetron "mistis-religius". Dalam film atau sinetron produksinya ia lebih berbicara tentang manusia yang "nyata" dengan segala permasalahannya, dan bukan tentang mahluk halus. Deddy menyimpulkan bahwa fenomena maraknya sinetron mistis-religius, terjadi akibat adanya tarik menarik antara budaya dan agama.
Menurut Kang Jalal –panggilan akrab Jalaluddin Rahmat- pembuatan sinetron atau film religious sebenarnya tidak harus banyak menampilkan simbol-simbol keagamaan (Islam) secara vulgar. Mulai dari alur cerita, adegan, setting, kostum dan lain sebagainya tidak harus menampakkan formalitas keagamaan (khas Islam), seperti menampakkan ritual Islam (wudlu, adzan, sholat, membaca al qur’an, dll). Setting dan kostumnya tidak harus di masjid dan musholla, yang kostumnya memakai pakaian muslim dan muslimah (peci, koko, jilbab, dll). Demikian juga, di film atau sinetron dakwah tidak harus menampakkan adegan mengusir kekuatan ghaib dengan membaca ayat-ayat suci alqur’an dan lain-lain.
Justru, salah satu kelemahan film atau sinetron dakwah yang lebih banyak menampilkan simbol-simbol keislaman kurang dapat menyentuh orang-orang non-muslim. Orang non muslim mungkin dengan melihat judul dan tampilannya yang “Islamic Centris”, malah membuat mereka tidak tertarik dan enggan menontonnya. Namun demikian, menurutnya film atau sinetron dakwah harus lebih banyak mengangkat tema-tema atau nilai universal, seperti keadilan, penentangan terhadap penindasan, concern terhadap derita kemanusiaan, perhatian terhadap orang-orang yang terpinggirkan, dan lain sebagainya. Menurunya, yang terpenting dari film atau sinetron dakwah adalah mampu mengubah akhlaq masyarakat menuju akhlaq yang Islami.
Terlepas dari kontrofersi mengenai tayangan-tayangan sinetron mistis religious tersebut, yang jelas umat Islam patut bersyukur bahwa dengan maraknya sinetron yang membawa simbol-simbol ke-Islaman tersebut dapat memberikan alternatif hiburan dan mudah-mudahan sekaligus sebagai pelajaran yang baik bagi penontonnya. Segmentasi penonton televisi memang bermacam-macam, baik dari strata pendidikan, sosial, ekonomi dan agama. Ada segmen masyarakat yang dapat berubah menuju kebaikan karena tayangan sinetron itu, dan ada yang tidak. Atau mungkin ada yang kontra produktif karena adanya tayangan itu. Namun terlepas dari itu semua, maraknya sinetron mistis religious ini dalam “dunia dakwah” melalui media televisi merupakan perkembangan yang luar biasa. Karena biasanya acara-acara yang bernuansa keagamaan –termasuk sinetron keagamaan- hanya muncul pada waktu-waktu tertentu (Ex.Ramadhan), dan di hari-hari biasa tidak pernah menempati prime time. Ke depan, hanya bagaimana sinetron-sinetron yang bernuansa religious ini dapat dikemas menjadi tayangan yang lebih bermakna, tidak hanya sisi mistiknya yang ditonjolkan.
Menurut Kang Jalal bahwa minat untuk berdakwah sebenarnya sudah merambah ke para sineas dan para seniman muslim. Tetapi mereka sering kesulitan dana, karena belum banyak produser yang tertarik untuk memproduksi film-film dan sinetron dakwah. Ketidak-tertarikannya ini menurut mereka disebabkan karena film dan sinetron dakwah secara komersiil tidak menguntungkan, karena tidak banyak menjaring iklan. Menurut survey SRI (Survey Research Indonesia) film dan sinetron dakwah tidak banyak penontonnya. Sehingga hal ini juga yang menyebabkan nilai jual iklan pada acara atau program dakwah rendah.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka diperlukan keterlibatan aktif dari berbagai pihak, khususnya produser dan penonton. Produser harus lebih kreatif untuk membuat film dan sinetron dakwah yang bermutu, sementara umat Islam juga harus mau menonton hasil dari kreatifitas pembuatan film dan sinetron dakwah tersebut. Sehingga pemasang iklan tertarik untuk memasang iklannya di film dan sinetron dakwah, dan tidak ada alasan lagi dari para produser untuk mengatakan film dan sinetron dakwah tidak menguntungkan.
Perlu diketahui bahwa setiap “jengkal waktu”, mulai dari jam, menit hingga detik bagi televisi (khususnya swasta) mempunyai nilai jual (uang) ke pemasang iklan, dan satu waktu dengan waktu yang lain (jam, menit hingga detik) mempunyai nilai harga jual yang berbeda, tergantung rating acara yang disiarkan. Rating acara ini ditentukan berdasarkan seberapa besar minat penonton televisi terhadap acara tertentu. Sehingga dengan asumsi jika suatu acara televisi itu “bagus” maka acara itu akan diminati oleh orang banyak, dan iklan yang ditayangkan di acara itu juga ditonton orang banyak, sehingga produk yang ditawarkan di iklan tersebut juga mempunyai kemungkinan untuk dibeli oleh orang banyak. Disinilah berlaku hukum timbal balik atau sebab akibat secara ekonomis dan saling menguntungkan antara pihak produser (Production House), televisi dan pemasang iklan.
Disinilah terlihat bahwa sebenarnya umat Islam sebagai pemirsa televisi juga mempunyai andil, kenapa siaran dakwah di televisi tidak mempunyai rating yang bagus, yang dapat mengakibatkan penempatan jam tayang siaran dakwah tidak pada jam unggulan. Muncul ironi disini, di satu sisi umat Islam menuntut agar tayangan yang berbau seks, pornografi, pornoaksi, sadisme dan mistisisme dikurangi, tetapi di sisi lain umat Islam juga tidak mau menonton siaran dakwah. Hal ini beralasan karena acara dakwah di televisi jam tayangnya kurang tepat, atau mungkin juga dikarenakan format siaran dakwahnya yang tidak menarik bagi penonton. Demikian juga sering terjadi tuntutan kepada para produser film, agar film yang dibuat tidak hanya berkisar pada tema-tema percintaan, balas dendam, mistis dan film-film yang berbau pornografi. Tetapi ketika para sineas yang mempunyai kepedulian terhadap permasalahan umat membuat film-film yang bernuansakan dakwah, umat Islam justru tidak mau menonton film itu. Sehingga yang terjadi kerugian besar dialami oleh para produser ini. Oleh karena itu kepedulian terhadap film dan sinetron dakwah harus dimunculkan dari semua pihak, baik produser, penonton, pemilik stasiun televisi, pemasang iklan, dan lain sebagainya. Sehingga dengan demikian, akan bermunculan film dan sinetron dakwah yang berkualitas, yang dapat membawa masyarakat menuju kebaikan, sekaligus laku dan laris terjual. Semoga...

No comments:

Post a Comment